News

Pancasila Menyala Abadi – FAJAR



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taipei Taiwan, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen, peneliti, master trainer, reviewer jurnal Internasional terindeks Scopus, memiliki lebih dari 55 sertifikasi dan kompetensi multi-lintasdisiplin keilmuan, organisatoris, telah menerbitkan puluhan buku dan ratusan opini/artikel di berbagai media massa cetak dan online.

Bangsa yang besar tidak hanya mengingat sejarah; ia berani diperiksa oleh sejarah. Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar tanggal yang berdiri beku di kalender kenegaraan. Ia adalah ruang batin bangsa untuk menatap luka dan mengubah ingatan kolektif menjadi energi moral. Tanggal 1 Oktober memperoleh kedudukan resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Namun maknanya tidak berhenti pada seremoni, upacara, atau pengulangan narasi masa lalu. Hari itu mengundang pertanyaan tajam: apakah Pancasila masih bekerja sebagai kompas hidup, atau tinggal teks hafalan tanpa daya perilaku?

Jika 1 Juni mengingatkan bangsa pada kelahiran gagasan Pancasila, sebagaimana ditegaskan melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, maka 1 Oktober mengingatkan bangsa pada ujian ketahanan nilai Pancasila. Yang pertama adalah memori asal-usul; yang kedua adalah refleksi daya tahan. Keduanya bertemu dalam panggilan moral: menjadikan Pancasila cara bangsa menjaga akal sehat, martabat manusia, dan masa depan bersama.

Sejarah selalu memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah peristiwa: tanggal, korban, keputusan politik, arsip negara. Wajah kedua adalah pelajaran: bagaimana bangsa belajar dari keretakan, mencegah dendam diwariskan, dan menjaga perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan permanen. Dalam wajah kedua inilah Hari Kesaktian Pancasila memperoleh daya hidupnya. Pancasila disebut sakti bukan karena ia jimat politik yang kebal kritik, melainkan karena ia sanggup bertahan sebagai titik temu ketika ideologi, kepentingan, dan identitas berebut panggung. Kesaktian itu bukan magi. Ia adalah ketahanan etik yang terus diuji oleh zaman.

Pada titik ini, kesaktian Pancasila perlu didekonstruksi dari mitos kekebalan menjadi etos pertanggungjawaban. Ia tidak sakti karena dibentengi slogan, melainkan karena berani membuka kepalsuan moral di balik simbol: religius tetapi mudah membenci, nasionalis tetapi abai pada yang lemah, demokratis tetapi alergi terhadap kritik, modern tetapi miskin belas kasih. Refleksinya sederhana sekaligus mengguncang: Pancasila bukan cermin untuk mengadili orang lain, melainkan pisau nurani untuk membedah ego kolektif bangsa agar kemerdekaan tidak berubah menjadi ritual tanpa keadaban.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *