Pemerintah Wacanakan Tutup Sejumlah Prodi Perguruan Tinggi, Anies Baswedan Tekankan Pendidikan Bukan Hanya untuk Industri

Fajar.co.id, Jakarta – Wacana penataan atau bahkan penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri kembali mencuat.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi mendorong agar kurikulum dan prodi lebih selaras dengan tuntutan dunia kerja serta tantangan zaman saat ini.
Tujuannya adalah meningkatkan daya saing lulusan agar lebih siap memasuki pasar kerja di era global yang semakin kompetitif.
Namun, kebijakan tersebut menuai berbagai kekhawatiran di kalangan akademisi dan pemerhati pendidikan. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah semua bidang ilmu harus diukur semata-mata dari kacamata kebutuhan pasar?
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, memberikan tanggapan kritis terhadap wacana ini. Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar mencetak tenaga kerja siap pakai bagi industri.
“Pendidikan bukan hanya soal mencetak pekerja, tetapi juga membangun peradaban dan pemikiran kritis,” ujar Anies, dikutip fajar.co.id dari unggahan di akun media sosialnya, Kamis (30/4/2026).
Dia menegaskan bahwa menjawab tantangan zaman tidak harus dilakukan dengan cara menutup atau menghilangkan sejumlah bidang ilmu tertentu. Justru, keberagaman disiplin ilmu menjadi kekuatan utama bangsa dalam menghadapi masa depan yang kompleks dan penuh ketidakpastian.
Anies mengingatkan bahwa banyak inovasi besar dalam sejarah lahir dari bidang ilmu yang pada masanya dianggap “tidak relevan” secara industri. Ilmu murni (basic science), ilmu sosial, dan humaniora sering kali menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi dan pemahaman masyarakat di kemudian hari.
Source link
