News

Gelak di Zaman Cemas – FAJAR



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taipei Taiwan, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen, peneliti, master trainer, reviewer jurnal Internasional terindeks Scopus, memiliki lebih dari 55 sertifikasi dan kompetensi multi-lintasdisiplin keilmuan, organisatoris, telah menerbitkan puluhan buku dan ratusan opini/artikel di berbagai media massa cetak dan online.

PORTALUTAMA.NET – Manusia modern sering hidup seperti mesin yang terlalu lama dipaksa menyala. Pagi dibuka oleh alarm, siang dikejar rapat, malam dipenuhi layar, sementara tubuh dan jiwa perlahan kehilangan ruang untuk bernapas. Di tengah kemajuan teknologi medis, kecerdasan buatan, genomik presisi, dan layanan kesehatan digital, ada satu praktik sederhana yang justru makin jarang dirawat: tertawa dengan tulus, aman, dan bersama orang lain.

Di banyak rumah, sekolah, kampus, kantor, dan ruang tunggu rumah sakit, manusia tidak selalu kekurangan informasi kesehatan. Yang sering hilang justru adalah suasana aman untuk bernapas, berbicara, dan tertawa tanpa merasa dihakimi. Terapi tertawa bukan ajakan menyepelekan penderitaan. Ia bukan candaan murahan di hadapan pasien, bukan pula slogan bahwa semua penyakit dapat sembuh asal manusia cukup banyak tertawa. Ia lebih tepat dipahami sebagai intervensi psikososial komplementer: latihan terstruktur yang menggunakan tawa, humor, permainan ringan, ekspresi tubuh, napas, dan interaksi kelompok untuk membantu tubuh menurunkan ketegangan serta membantu pikiran menemukan jarak sehat dari beban. Dalam bahasa kedokteran modern, ia berada di wilayah promotif, preventif, rehabilitatif, dan suportif; bukan pengganti diagnosis, obat, psikoterapi, atau tindakan medis.

Dalam perspektif humaniora, tertawa adalah salah satu bahasa tertua manusia. Bayi mampu tersenyum dan tertawa sebelum ia fasih menyusun kalimat. Di banyak budaya, tawa menjadi tanda penerimaan sosial, pelepas konflik, dan pengikat komunitas. Dalam linguistik, humor bekerja melalui kejutan makna: sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi tiba-tiba membuka ruang tafsir baru. Humor juga lahir dari permainan konteks, ambiguitas, ironi, dan pelanggaran ekspektasi yang tetap berada dalam batas aman.

Dalam filsafat, tawa adalah cara manusia menghadapi absurditas hidup tanpa harus menyangkal kenyataan. Orang yang tertawa tidak selalu hidup tanpa luka; sering kali ia sedang berusaha agar luka itu tidak menguasai seluruh dirinya. Karena itu, terapi tertawa memiliki kedalaman yang sering tidak terlihat. Ia bekerja bukan hanya pada otot wajah, tetapi juga pada memori, relasi, perhatian, dan rasa aman.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *