News

PSG vs Arsenal di Final UCL 2026: Dua Juru Taktik Klub, Arteta dan Enrique Ternyata Punya ‘DNA’ Barcelona



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Final Liga Champions atau UCL tahun 2026 ini mempertemukan Paris Saint Germain dengan Arsenal. Peran pelatih kedua klub tersebut menjadi sorotan.

Bagaimana tidak, sang juru taktik Mikel Arteta tidak hanya sukses membawa Arsenal ke final UCL. Tapi juga memastikan juara liga Inggris atau EPL musim ini.

Terlebih lagi Luis Enrique, setelah sukses menjuarai liga Prancis dan UCL musim lalu. Dia kembali berpotensi membawa anak asuhnya memenangkan gelar yang sama.

Pertandingan final ini bakal berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hungaria Sabtu (30/5) mulai pukul 23.00 WIB.

Kedua tim diprediksi sama-sama main ngotot. Arsenal yang belum pernah menjuarai UCL, tidak akan mati-matian.

Sementara PSG yang baru saja menjuarai UCL musim lalu, akan mempertahankan gelarnya.

Namun menariknya, di balik juru taktik kedua klub. Ternyata ada ‘DNA’ atau hubungannyadengan Barcelona.

Berikut ini profil kedua sang pelatih:

Mikel Arteta

Mikel Arteta Amatriain lahir di San Sebastian, Spanyol, pada 26 Maret 1982. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan memiliki pemahaman taktik yang sangat luar biasa. 

Ia memulai mimpi sepak bolanya di akademi legendaris milik Barcelona, La Masia. Di sana, ia menyerap ilmu sepak bola berbasis penguasaan bola khas Catalan yang sangat kental. 

Arteta menimba ilmu bersama nama-nama besar seperti Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Namun, persaingan ketat di lini tengah membuatnya sulit menembus skuad utama Blaugrana.

Pihak klub kemudian memutuskan untuk meminjamkan sang gelandang muda ke Paris Saint-Germain. Keputusan tersebut menjadi titik balik penting yang mengubah arah karier sepak bola profesionalnya. 

Setelah itu, ia memilih hijrah ke Britania Raya untuk membela Rangers dan Everton. Di Premier League, namanya mulai diperhitungkan sebagai salah satu gelandang paling kreatif. 

Arsene Wenger lalu memboyongnya ke Arsenal pada tahun 2011 untuk menjadi jenderal lapangan tengah. Di London Utara, ia bahkan dipercaya mengemban ban kapten karena jiwa kepemimpinannya yang tinggi. 

Setelah gantung sepatu, ia langsung ditunjuk menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City. Pengalaman berharga tersebut semakin mematangkan visi bermain dan strategi kepelatihan yang ia miliki. 

Arsenal akhirnya memanggil pulang sang mantan kapten untuk menjadi manajer utama pada 2019. Di bawah arahannya, The Gunners kembali menjelma menjadi kekuatan yang sangat ditakuti. 

Gaya kepemimpinannya di luar lapangan selalu menekankan pada kedisiplinan dan budaya kerja keras. Ia tidak ragu mendepak pemain bintang demi menjaga keharmonisan di dalam ruang ganti. 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *