News

​Menembus Sunyi, Membaca Dunia: 35 Tahun Mitra Netra Mengikis Sekat Literasi Tunanetra



PORTALUTAMA.NET, ​JAKARTA — Tiga dekade lalu, di sebuah ruangan sempit berukuran 3×3 meter di kawasan Jalan Kramat, Jakarta Pusat, sebuah misi yang terdengar mustahil dimulai. Tanpa gedung megah, tanpa teknologi canggih. Di sana hanya ada sebuah tape recorder, tumpukan kaset pita bekas, dan sekumpulan relawan yang bergantian membaca nyaring.

​Kadang kala, suara deru sepeda motor, rintik hujan, hingga teriakan penjual bakso ikut terekam masuk ke dalam kaset. Namun, dari pita-pita kaset yang bising itulah, fajar literasi bagi penyandang disabilitas netra di Indonesia mulai terbit.

​Dari ruang kecil tersebut, Yayasan Mitra Netra resmi lahir pada 14 Mei 1991. Bulan ini, lembaga sosial tersebut genap menginjak usia 35 tahun—sebuah perjalanan panjang dalam konsistensi membuka pintu pendidikan yang setara bagi tunanetra.

​Dari Kaset Pita ke Server Awan

​Nama “Mitra Netra” berarti sahabat tunanetra. Namun dalam praktiknya, yayasan ini menjelma lebih dari sekadar pendamping. Ia tumbuh menjadi laboratorium inovasi sekaligus rumah aman bagi ribuan tunanetra di tanah air.

​Jika dulu perjuangan mereka harus diarsip lewat pita kaset yang rentan kusut, kini bentuk perjuangan itu telah bermutasi mengikuti zaman. Kaset pita telah digantikan oleh format EPUB dan buku audio digital. Rak-rak buku kayu kini telah bertransformasi menjadi server perpustakaan daring yang kokoh.

​Melalui platform Pustaka Mitra Netra Online, dampak yang dihasilkan kini melompat tanpa batas sekat geografis.

Indikator Capaian Perpustakaan Digital:

  • Koleksi Buku 3.549 judul (2.586 teks EPUB & 963 buku audio)
  • Pengguna Terdaftar 4.257 orang
  • Total Unduhan 47.161 kali
  • Jumlah Pengunjung Menembus 1,5 juta lebih

​”Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Di baliknya, ada ribuan senyum tunanetra yang akhirnya bisa ‘membaca’ secara mandiri, tanpa harus selalu bergantung pada belas kasih orang lain untuk membakan buku,” tulis narasi perjuangan mereka.

​Lebih dari Sekadar Belajar: Tempat “Belajar Nongkrong”

​Manfaat nyata dari evolusi ini dirasakan langsung oleh Vivi Intan Pangestuti. Perempuan tunanetra ini mengenal Mitra Netra sejak 2011 melalui temannya yang sering meminjam CD audio book. Tertarik untuk berkembang, Vivi nekat mengambil kursus komputer luring langsung di Jakarta.

​”Aku ingin belajar di sana secara langsung, sekaligus ingin belajar bepergian sendiri,” kenang Vivi saat berbincang dengan pegiat inklusi Makassar, Andi Zulfajrin Syam, pada 17 Mei 2026.

​Di sana, Vivi tidak hanya pulang membawa keahlian mengoperasikan Microsoft Office dan Excel. Ia menemukan kembali rasa percaya dirinya. Menariknya, pengalaman paling berkesan bagi Vivi justru lahir di luar ruang kelas.

​”Oh ya, selama di sana juga aku belajar nongkrong!” kisahnya sambil tertawa lepas. “Aku yang sebenarnya anak rumahan, sangat pendiam, dan sulit akrab dengan lingkungan baru, ternyata dirangkul oleh teman-teman di sana. Mereka selalu melibatkan aku.”



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *