News

Guru Besar Ekonomi UI Sebut Pola Krisis 1998 Terlihat Hari Ini: Bedanya, Ada Pintu Keluar tapi Sedang Ditutup



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Mohamad Ikhsan menyebut pola sebelum krisis 1997-1998 terlihat di Indonesia hari ini. Ada sejumlah indikasi.

“Pola yang kita lihat hari ini, pelemahan kredibilitas fiskal, retorika menggantikan reformasi, dan toleransi terhadap pelanggaran aturan, adalah pola yang sama mendahului krisis 1997,” kata Ikhsan dikutip dari YouTube Kata Data, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, memang Indonesia belum menuju jurang krisis. Hanya saja, pintu keluar dari jurang krisis itu sedang ditutup.

“Jadi Indonesia menuju jurang? Belum. Tapi pintu keluarnya sedang ditutup. Jadi Indonesia belum di tepi jurang, tapi sejarah tidak sedang diam, ia sedang berbisik, dan bisikannya semakin keras,” ucapnya.

Itu, kata dia, yang membedakannya dari krisis 1997-1998.

“Bedanya, kali ini kita masih punya ruang untuk menghindar, tapi ruang itu mengecil setiap bulan, bahkan setiap hari,” imbuhnya.

Karenanya, meski tidak sama persis. Polanya mirip dengan krisis di ujung era Presiden ke-2 Soeharto.

“Apa yang kita lihat hari ini bukan pengulangan persis krisis 1997-1998, tapi gejalanya jelas mirip,” tambahnya.

Pola Krisis yang Terlihat Hari Ini

Ikhsan memaparkan sejumlah polanya. Mulai dari penyangkalan pemerintah terhadap kondisi ekonomi.

“Pertama, denail terhadap masalah ekonomi, bleaming others, dan meningkatnya persepsi terhadap aturan yang bisa dinegosiasilan,” papar Ikhsan.

Dia menggambarkannya seperti sedang bermain bola. 

“Tadi disampaikan bahwa ada persoalan tata kelola yang seperti main bola, kalau saya mau melakukan goal, sudah minggir deh, gitu,” sambung Ikhsan.

Selain itu, dia menilai ada pelemahan institusi independen. Berakibat pada kredibilitas data dan kebijakan.

“Pelemahan institusi independen, termasuk terhadap bank sentral, otoritas statistik, dan lembaga audit BPK. Jangan lupa, Yang mengikis kredibilitas data dan kebijkan,” ucap Ikhsan.

Ikhsan juga elihat adanya ekspansi finansial yang tidak disiplin. Berakibat pada pentempitan ruang fiskal.

“Kemudian ekspansi fiskal yang tidak disertai dengan disiplin di sisi pendapatan, menyebabkan ruang fiskal menyempit pada saat ekonomi global justru sedang mengetat,” paparnya.

Hal yang dimaksud Ikhsan, sejumlah proyek yang dijalankan tanpa analisis kelayakan yang ketat. Sama seperti pola pada akhir 1990-an

“Retorika nasionlis yang menggantikan subtansi reformasi, ketergantungan pada strongman politics, yang lemah terhadap kritik,” terangnya,

Ikhsan mengakui memang indikator makronya belum seperti 1998.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *