Dandhy Laksono Jawab Asal Anggaran Film Pesta Babi: Kami Tidak Dapat Honor, Alat dan Transportnya Patungan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Sutradara film Pesta Babi, Dandhy Laksono, buka suara terkait asal anggaran film Pesta Babi yang kini ramai jadi pembahasan publik.
Hal itu diungkapkan melalui sebuah unggahan di Instagram pribadinya @dandhy-laksono. Menunjukkan kolase video KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dengan dirinya.
Video Maruli itu, menanyakan asal anggaran Pesta Babi. Sementara video Dandhy, dalam sebuah siniar.
“Sebenarnya saya gak sedang menjawab KSAD. Saya menjawab Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, Erwin Adrian,” kata Dandhy, dikutip Rabu (20/5/2026).
Dalam videonya, Dandhy ditanyai Erwin Adrian dari mana asal anggaran tersebut. Pertanyaan serupa yang diungkapkan Maruli Simanjuntak.
“Pokoknya ada. Ya kan? Saya berhak untuk ngomong, pokoknya ada. Karena saya nggak mempertanggungjawabkan pajak,” jawab Dandhy, berseloroh.
Dia lalu menanyakan, mengapa publik lebih penasaran dengan asal anggaran proyek seperti film Pesta Babi. Ketimbang penasaran pada hal yang menyangkut kekuasaan.
“Lebih bener saya ngomong pokoknya ada, tapi orang justru lebih curious dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini, daripada darimana sih duit Capres untuk Pemilu?” ujarnya.
“Dari mana sih duit Parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede? Dari mana duit jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan?” tambahnya.
Dia lalu menjelaskan, dalam karya jurnalistik, yang paling penting adalah mendeclare, dari mana sumber beritanya. Termasuk sumber pendanaan.
“Karena dari sana publik bisa menilai, apakah itu karya independen apa tidak. Di film Pesta Babi, setelah judul Pesta Babi, dan semua nama orangnya jelas, teman-teman bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itulah para kolaborator,” jelasnya.
“Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan, untuk membiayai film ini,” sambungnya.
Semua yang terlibat, kata Dandhy, tidak dibayar. Mulai dari sutradara sampai videografer.
“Kami semua yang bekerja di situ, saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videografer, itu nggak ada yang dibayar,” imbuhnya.
Dia memberi gambaran. Watchdoc sebagai rumah produksi, menyumbang tenaga dan alat.
“Jadi misalnya Watchdoc, itu lembaga kecil, dia nggak punya duit. Dia menyumbang dalam bentuk kamera dan cameraman. Jadi itulah urunannya, dalam bentuk orang dan alat. Bukan dalam bentuk duit,” paparnya.
Lalu untuk kebutuhan transportasi, itu ditanggung kolaborator yang punya uang. Namun pada intinya, Dandhy menegaskan tidak ada yang diberi honor.
“Teman-teman yang punya duit, dia nyumbang transportnya. Tapi nggak ada honor. Jadi kami semua benar-benar mengeerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan, dan kami percaya bahwa, usaha ini justru akan lebih membuat filmya passionate,” pungkasnya.
(Arya/Fajar)
Source link
