Jejak Misterius Hantavirus – FAJAR

Oleh: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.
Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis puluhan buku, reviewer jurnal ilmiah nasional dan internasional, trainer berlisensi BNSP, organisatoris, asisten virtual, perintis NiBTM, dan komunikator sains
Di balik suara pasar, lumbung, rumah kosong, kapal pesiar, pelabuhan, dan gudang yang lama terkunci, ada kisah kecil tentang tikus, debu, manusia, dan virus. Hantavirus mengingatkan bahwa wabah tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia bermula dari ruang paling dekat. Kadang pula ia terbawa oleh mobilitas dunia. Dari sanalah ilmu pengetahuan, kewaspadaan, dan tata kelola lingkungan yang lebih cerdas diuji.
Hantavirus tidak selalu datang lewat gigitan. Terkadang ia datang bersama debu yang terangkat dari sudut gudang, lantai pasar, lumbung padi, atau rumah kosong yang lama tidak dibuka. Debu itu dapat bercampur urin, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi. Saat terhirup, virus masuk ke tubuh manusia. Dari hal yang tampak remeh, penyakit berat dapat bermula.
Hantavirus dikenal karena dua wajah utama. Pertama, hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, yaitu sindrom paru berat akibat hantavirus. Istilah lain yang sering dipakai adalah hantavirus cardiopulmonary syndrome atau HCPS, karena paru dan jantung dapat terdampak bersama. Kedua, hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS, yaitu demam berdarah dengan gangguan ginjal. Keduanya berbahaya dan perlu dikenali dini.
Hantavirus bukan nama satu virus tunggal. Ia adalah kelompok virus RNA untai negatif dalam keluarga Hantaviridae, ordo Bunyavirales. Ia adalah keluarga besar virus dengan banyak anggota. Sebagian lebih sering menyerang paru. Sebagian lain lebih menonjol pada ginjal. Sebagian kasus ringan. Sebagian lain dapat berubah cepat menjadi kegawatdaruratan.
Sejarah hantavirus beraroma perang, laboratorium, dan teka-teki. Saat Perang Korea, banyak tentara mengalami demam berat, perdarahan, dan gangguan ginjal. Penyakit itu dulu dikenal sebagai Korean hemorrhagic fever. Pada 1978, agen penyebabnya berhasil diisolasi dari tikus ladang Apodemus agrarius di sekitar Sungai Hantaan, Korea Selatan. Dari nama sungai itulah istilah Hantaan lahir, lalu menjadi akar nama hantavirus.
Kisah modern hantavirus tidak berhenti di Korea. Pada 1993, sindrom paru hantavirus dikenali dalam wabah gangguan napas berat di kawasan Four Corners, barat daya Amerika Serikat. Dari dua peristiwa itu, ilmu kedokteran belajar bahwa satu keluarga virus dapat menulis dua cerita klinis yang berbeda. Satu cerita tentang ginjal. Satu cerita tentang paru dan sirkulasi.
Source link
