Saat Prabowo Banggakan 25 Ribu Kopdes, Murid SD di Manggarai Barat Masih Belajar di Bawah Pohon

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Saat pemerintah pusat membanggakan pembangunan puluhan ribu Koperasi Desa Merah Putih dalam waktu singkat, realitas berbeda justru terjadi di pelosok Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Di SD Negeri Tando, Desa Robo, Kecamatan Welak, guru dan murid sudah bertahun-tahun bertarung dengan keterbatasan.
Kekurangan ruang kelas memaksa proses belajar mengajar dilakukan di bawah pohon sejak 2018.
Ironisnya, berbagai prosedur birokrasi disebut sudah ditempuh. Laporan dibuat, dokumen diserahkan, namun kepastian tak kunjung datang hingga akhirnya video kondisi sekolah itu viral di media sosial.
Kondisi tersebut terekam dalam sebuah video yang dibagikan melalui akun Facebook Karlos Melo pada 9 April 2026.
Video itu memperlihatkan seorang guru perempuan mengajar sekitar 15 siswa kelas III di luar ruangan, memanfaatkan area teduh di bawah pohon sebagai ruang belajar.
Guru bernama Marta yang ada dalam video tersebut mengaku sekolahnya telah lama mengalami kekurangan ruang kelas.
Ia juga memperlihatkan ruang kelas II yang berdinding seng dan berlantaikan tanah.
Marta diketahui telah mengajar di SD Negeri Tando sejak sekolah itu berdiri pada 2014.
Fasilitas Minim Sejak Berdiri
Tidak hanya kekurangan ruang kelas, SD Negeri Tando juga belum memiliki toilet dan belum tersambung dengan instalasi air bersih.
Lokasi sekolah itu pun cukup terpencil. Sekolah berjarak sekitar satu kilometer dari Kampung Tando dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki karena akses jalan belum beraspal.
Kepala SD Negeri Tando, Fransiskus Jenala menjelaskan, sekolah tersebut awalnya berstatus Tambahan Ruang Kelas (TRK) dari SDI Wongkol. Saat itu, sekolah hanya memiliki kelas I dan II.
Status TRK berlangsung hingga sekolah memperoleh Surat Keputusan definitif pada Oktober 2016.
“Gedung sekolah awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan material kayu dan seng,” kata Fransiskus dilansir fajar.co.id, Minggu 10 Mei 2026.
Dijelaskan Fransiskus, gedung permanen baru dibangun pemerintah pada 2018.
Namun bangunan tersebut hanya terdiri dari tiga ruangan sehingga pihak sekolah harus memasang sekat untuk menyesuaikan jumlah rombongan belajar.
Belajar Bergantian Saat Musim Hujan
Fransiskus mengatakan sebelumnya siswa kelas III masih belajar di bangunan lama.
Namun karena kondisi bangunan sudah tidak layak digunakan, kegiatan belajar akhirnya dipindahkan ke luar ruangan.
“Kalau musim hujan, mereka belajar di kelas I setelah siswa kelas I pulang,” imbuhnya.
Saat ini, jumlah siswa di SD Negeri Tando tercatat sebanyak 68 orang.
Source link
