News

Iwan Piliang Desak Hukum Mati Predator Seksual Anak: Manusia Bisa Lebih Buruk dari Hewan



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali memantik reaksi keras dari berbagai kalangan.

Dorongan agar pelaku dihukum mati pun mulai terang-terangan diungkapkan ke publik. Di antaranya Gus Hilmi Firdausi dan teranyar Pengacara Hotman Paris Hutapea.

Aktivis jurnalisme warga, Narliswandi Piliang, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap usulan yang mendorong hukuman mati bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Ia mengatakan, situasi saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan, dengan pelaku berasal dari berbagai latar belakang yang seharusnya menjadi panutan masyarakat.

Iwan Piliang, sapaannya, menyinggung banyaknya kasus yang terjadi belakangan ini, bahkan di lingkungan yang selama ini dianggap aman.

“Hari-hari ini banyak kasus-kasus perkosaan, pelecehan seksual. Dan itu tempat serta pelaku hal yang absurd gitu. Kiai, ustaz, pimpinan pondok (pesantren),” ujar Iwan dikutip fajar.co.id, Rabu (6/5/2026).

Ia juga bicara bagaimana isu tersebut semakin meluas di berbagai sektor, mulai dari aparat hingga lembaga pendidikan dan keagamaan.

“Oknum polisi, calon perempuan yang berminat masuk polisi, oknum TNI, Lebih parah tadi ya kesantren dan sudah banyak juga terjadi,” Iwan menuturkan.

“Juga ada di unsur gereja ya pada anak-anak lelaki dan seterusnya,” tambahnya.

Bukan hanya itu, ia turut menyinggung pernyataan Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar yang menurutnya ramai dibesar-besarkan, namun belum sepenuhnya diklarifikasi.

“Tapi sudah ada kalimat semacam pembelaan gitu. Tapi kalau kita lihat dari Sabang sampai Merauke. Iya kan? Kasus-kasus demikian banyak,” tukasnya.

Tekankan Pentingnya Iman dan Pendidikan Dasar

Lebih jauh, Iwan menilai akar persoalan tidak semata pada hukum, tetapi juga pada kualitas keimanan dan pendidikan dasar dalam keluarga.

“Apa masalah kita sesungguhnya. Jadi saya beberapa waktu lalu mengatakan kalau beragama belum tentu kan beriman,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pendidikan sejak dini harus mengarah pada pembentukan iman yang kuat.

“Jadi pendidikan dasar, khususnya kita orang tua, harusnya mengarah ke sana. Menciptakan diri ini, punya iman gitu,” tegas Iwan.

Ia juga menggambarkan pentingnya menumbuhkan rasa empati melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Kenapa saya selalu mengatakan pohon jangan dipaku. Kalau mau digunakan ditembang. Jadi ada rosso kalau istilah Jawa itu ada rasa. Pohon juga punya rasa,” imbuhnya.

“Ibarat dengkul dipaku gitu. Kita melukai tangan sendiri sakit keluar darah. Bagaimana kalau kita melukai orang. Itu yang harus dicangkang,” sambung dia.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *