News

Momentum HARDIKNAS sebagai Panggilan Berinovasi Berkelanjutan



Oleh: Dr. Amirullah, S.Pd, M.Pd, Dosen UNM dan Pengurus APKS PGRI Kota Makassar

PORTALUTAMA.NET – Perayaan Hari Pendidikan Nasional, sering kali terasa penuh seremoni upacara, pidato dan unggahan inspiratif. Kita wajib belajar dari lintasan sejarah panjang kemajuan pendidikan Indonesia, hari ini seharusnya menjadi ruang refleksi kritis, sejauh mana pendidikan tetap setia pada semangat perjuangan para tokoh pendahulu kita, dari masa pergerakan sampai masa reformasi?

Refleksi Semangat Pendidikan Sejarah mencatat pada masa pergerakan nasional, pendidikan adalah alat pembebasan. Wahidin Sudirohusodo menjadi tokoh penting menanamkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa hanya bisa dicapai melalui ilmu pengetahuan. Gagasan Dana Pendidikan yang ia gagas bukan sekadar program bantuan, tetapi gerakan ideologis untuk membuka akses pendidikan bagi masyarakat Indonesia prakemerdekaan. Semangat ini kemudian melahirkan Budi Utomo tonggak awal kebangkitan nasional yang berbasis pendidikan dan kesadaran kolektif. Perjuangan ini menunjukkan bahwa pendidikan sejak awal adalah ruang perlawanan terhadap ketidakadilan, bukan sekadar aktivitas akademik.

Lebih jauh, pada fase ini pendidikan juga menjadi alat membangun kesadaran kolektif sebagai bangsa. Sekolah-sekolah modern yang mulai berkembang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan rasa kebangsaan yang sebelumnya terpecah oleh identitas kedaerahan. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi kuat lahirnya gerakan nasional Indonesia.

Perjuangan itu diperkuat oleh Ki Hajar Dewantara, yang menolak pendidikan kolonial yang diskriminatif. Ia memperkenalkan konsep pendidikan yang memerdekakan membentuk manusia yang berpikir, berkarakter, dan berdaulat atas dirinya sendiri. Di sinilah pendidikan tidak hanya dipahami sebagai transfer ilmu, tetapi sebagai proses pembentukan kesadaran dan kepribadian bangsa.

Memasuki masa kemerdekaan, khususnya era Orde Lama, pendidikan diarahkan untuk membangun identitas nasional. Negara berusaha menjadikan pendidikan sebagai alat pemersatu bangsa yang baru lahir. Namun, di sisi lain, pendidikan juga mulai bersinggungan dengan ideologi politik yang kuat, sehingga ruang kritis kadang terbatas oleh kepentingan kekuasaan. Pada masa ini pula, pendidikan dijadikan sarana untuk menanamkan semangat nasionalisme dan revolusi. Kurikulum tidak hanya berisi pengetahuan akademik, tetapi juga nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan anti-kolonialisme. Meskipun demikian, dominasi ideologi negara sering membuat pendidikan kurang memberi ruang pada kebebasan berpikir yang independen.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *