News

Kritik Tajam Tom Lembong di May Day: Mega Proyek Tak Jawab Masalah Pekerja



PORTALUTAMA.NET — Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 dinilai memiliki makna yang lebih dalam bagi kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Ekonom nasional, Tom Lembong, menegaskan bahwa momentum ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sinyal kondisi darurat yang dihadapi pekerja.

Dalam keterangannya, Tom mengingatkan bahwa istilah “May Day” juga dikenal sebagai kode darurat dalam dunia pelayaran dan penerbangan.

“May Day adalah Hari Buruh Dunia tapi juga standar kode atau panggilan untuk kondisi darurat – misalnya antar pelaut atau awak pesawat,” ujar Tom.

Menurutnya, makna ganda tersebut sangat relevan dengan situasi saat ini, di mana para pekerja menghadapi tekanan berat, terutama dari sisi lapangan kerja dan daya beli.

“Tahun ini yang rasanya tepat adalah memperingati makna ganda May Day: mengapresiasi buruh dan pekerja, dan sekaligus mengakui darurat lapangan kerja dan hantaman keras terhadap daya beli pekerja kita,” lanjutnya.

Soroti Arah Kebijakan Ekonomi

Tom menilai solusi atas persoalan ini sebenarnya tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Ia kembali menekankan pentingnya perubahan arah kebijakan ekonomi nasional.

“Untuk Indonesia, solusinya tidak berubah sejak 3 tahun lalu: harus ada pergeseran kebijakan dari yang mengutamakan mega-proyek yang padat modal, ke program dan kebijakan yang fokus ke sektor yang padat karya,” tegasnya.

Menurutnya, strategi pembangunan yang terlalu berfokus pada proyek besar berintensitas modal tinggi belum mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.

Tantangan Baru: Produktivitas Pekerja

Selain itu, Tom juga menyoroti adanya tantangan baru yang perlu segera direspons pemerintah, yakni pergeseran dari kebijakan populis ke peningkatan produktivitas tenaga kerja.

“Namun sekarang ada tantangan baru, yaitu perlu pergeseran kebijakan dari program yang populis-konsumtif, ke program yang langsung meningkatkan produktivitas pekerja formal dan non-formal kita dalam jangka pendek,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kebijakan yang mendorong produktivitas akan memberikan dampak lebih berkelanjutan dibanding program yang hanya bersifat konsumtif.

Momentum Evaluasi

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa peringatan May Day bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga momentum refleksi terhadap kondisi riil pekerja di Indonesia.

Dengan tekanan ekonomi global dan domestik yang masih berlangsung, isu lapangan kerja dan daya beli dinilai akan tetap menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi melalui kebijakan yang lebih tepat sasaran.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *