News

Berakhir dengan Antrean Panjang Pembagian Sembako, May Day Fiesta di Monas Ramai Sorotan



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Bagi-bagi sembako pada May Day Fiesta di Monas, Jakarta menuai sorotan. Pasalnya, hari buruh tersebut, alih-alih menjadi ruang menyampaikan aspirasi, malah menjadi kegiatan bagi sembako.

Salah satu yang menyoroti Pegiat Media Sosial @Jelli_cent. Dia menyentil satire bagaimana massa di Monas.

“MBG bermanfaat atau tidak? Tidakkkkkkk!!! Bantuan sembako mau tidak? Mauuuuuuu!” tulisnya dikutip Sabtu, 2 Mei 2026.

Padahal menurutnya, masih banyak yang mesti diperjuangkan. Tapi berakhir menjadi antrean sembako.

“Dan Mayday berakhir dengan antri sembako… Cukup sepaket sembako, & mereka lupa, masih ada banyak yang harus diperjuangkan,” ucapnya.

Dia juga mengunggah video dari trenster.id. Menunjukkan seorang pria membuka paket sembako berwarna biru khas pemerintahan Prabowo Subianto.

Paket itu berisi kopi, kental manis, margarine, gula, ikan kaleng, hingga beras.

Anggaran Disorot

Ketua Umum Barisan Rakyat Nusantara (BaraNusa) Adi Kurniawa sebelumnya menyoroti penggunaan anggaran May Day Fiesta. Pihaknya menuntut transparansi.

“Menyisakan sejumlah pertanyaan publik yang hingga kini belum terjawab secara terang,” kata Adi dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).

Di balik kemeriahan acara yang dihadiri puluhan hingga ratusan ribu massa itu, Adi mengaku mendengar informasi mengenai besarnya biaya pengerahan peserta. Kabarnya, tiap orang mendapat uang saku.

“Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa setiap individu yang hadir memperoleh uang saku sebesar Rp150.000 hingga Rp200.000, ditambah paket sembako senilai sekitar Rp300.000. Dengan demikian, total yang diterima per orang berkisar Rp450.000,” jelasnya.

Jumlah itu, jika ditotal dengan massa yang hadir. Nilainya mencapai puluhan miliar.

“Jika jumlah peserta diperkirakan mencapai 100.000 orang, maka total anggaran untuk pengerahan massa saja sudah menyentuh angka Rp45 miliar,” imbuhnya.

Hal tersebut belum termasuk biaya operasional penyelenggaraan.

“Angka ini belum termasuk biaya lain seperti event organizer (EO), panggung, peralatan, transportasi, konsumsi, serta kebutuhan teknis lainnya yang tentu juga memerlukan anggaran besar,”terangnya.

“Situasi ini memunculkan pertanyaan krusial: dari mana sumber dana sebesar itu berasal?” sambung Adi.

Efisiensi Anggaran?

Adi menghubungkannya dengan efisiensi anggaran yang terus digaungkan pemerintah. Itulah kenapa, menurutnya penting membuka sumber anggaran kegiatan tersebut.

“Publik tentu berhak mempertanyakan apakah kegiatan ini menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau bersumber dari pihak lain,” terangnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *