Rocky Gerung Bicara Blak-blakan di Unimed, Sebut Separuh Kabinet Merah Putih Dungu

PORTALUTAMA.NET, MEDAN — Pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan kritik pedas terhadap jajaran pemerintahan Kabinet Merah Putih. Di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed), akademisi sekaligus pengkritik kawakan ini menilai sebagian pejabat kabinet saat ini tidak memiliki kecerdasan intelektual dan moral yang memadai untuk mengelola negara.
Pernyataan tajam tersebut disampaikan Rocky saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Algoritma Bernegara yang digelar di Kampus Unimed, Medan, Sumatra Utara, pada Jumat (24/10/2026) kemarin.
Dalam forum ilmiah itu, atmosfir diskusi memanas ketika seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unimed, Delila Agusinana Sution, mengajukan pertanyaan kritis mengenai efektivitas dan kualitas kepemimpinan nasional. Delila mempertanyakan apakah jajaran pemerintahan saat ini sudah memenuhi kriteria ideal sebagai rezim yang cerdas, berintegritas, serta memiliki akuntabilitas publik.
Menjawab pertanyaan tersebut tanpa tedeng aling-aling, Rocky Gerung langsung melayangkan penilaian menohok mengenai proporsi kecerdasan di tubuh kabinet.
“Ya, nanti separuh dari kabinet itu dungu,” ujar Rocky Gerung sebagaimana disiarkan dalam sejumlah tayangan video di sejumlah akun Youtube, dikutip fajar.co.id, Minggu (25/10/2026).
Tantang Mahasiswa Buktikan Penilaian Lewat Teknologi AI
Sentilan keras Rocky tidak berhenti pada sebutan “dungu”. Ia meminta mahasiswa untuk tidak sekadar menelan mentah-mentah pendapat tokoh atau berhenti pada tataran kecurigaan semata. Sebaliknya, ia menantang generasi muda untuk menguji dan membuktikan kelemahan kualitas para menteri menggunakan data ilmiah serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurut Rocky, di era digital saat ini, rekam jejak, afiliasi politik, hingga kapasitas para pejabat sangat mudah dilacak melalui data terbuka yang bertebaran di media sosial dan mesin pencari.
“Sekarang tugas kalian untuk membuktikan deteksimu. Anda mencurigai itu, Anda enggak bisa buktikan. Anda buktikan aja,” tegas Rocky melontarkan tantangan.
Ia menjabarkan teknik analisis data sederhana yang bisa dilakukan mahasiswa menggunakan pemrosesan data AI, seperti metode tabulasi silang (cross-tabulation). Lewat cara ini, peta kekuatan, latar belakang partai, hingga siapa patron politik di balik figur seorang menteri bisa terpetakan dengan akurat.
“Kan datanya ada di sosial media, tinggal bantuan AI untuk cross tabulasi dari partai mana dia? Patronnya siapa? Ngapain tanya saya lagi,” tambahnya.
Melalui pendekatan tersebut, Rocky mendorong tradisi baru di kampus: membangun argumentasi politik berbasis validasi data kuantitatif dan rekam rekam jejak obyektif, bukan sekadar opini instan.
Source link
