News

Prabowo Puji Kabinet Membanggakan, Hendri Satrio: Biar Gak Kocar-kacir!



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, memberikan analisis kritis terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kinerja Kabinet Merah Putih “cukup membanggakan” pada perayaan dua tahun masa pemerintahannya.

Pria yang akrab disapa Hensa itu menilai bahwa pujian publik yang dilayangkan Presiden sejatinya harus dibaca sebagai strategi psikologis untuk menjaga ritme dan mentalitas para menteri serta kepala lembaga, bukan sebagai bentuk rapor akhir kepemimpinan.

Melalui komunikasi telepon pada Kamis (22/10/2026), Hensa menggarisbawahi bahwa dorongan moral dari pimpinan tertinggi sangat krusial untuk mencegah terjadinya kekacauan koordinasi di internal pemerintah.

“Dia harus menjaga kepercayaan diri dan keyakinan timnya dong. Karena kalau sampai timnya tidak percaya diri, kocar-kacir nanti timnya itu. Jadi itulah yang bisa dia lakukan, dan itu bagus,” ujar Hensa saat dihubungi, Kamis (22/10/2026).

Hensa mengibaratkan posisi Presiden Prabowo saat ini bak seorang pelatih sepak bola di tengah jalannya pertandingan besar. Menurut analisisnya, seorang pelatih profesional tidak akan membanting moral atau menjatuhkan kepercayaan diri para pemainnya di hadapan publik, melainkan menyimpan catatan evaluasi mendalam untuk disampaikan dalam sesi tertutup di ruang ganti.

“Pelatih mana yang di ruang ganti bilang timnya jelek? Enggak ada. Dipuji dulu, dipeluk dulu. Evaluasinya nanti di ruang tertutup. Mudah-mudahan memang ada evaluasinya, saya yakin sih pasti ada,” kata dia.

Lebih lanjut, Hensa menaruh perhatian khusus pada pilihan diksi yang disampaikan Presiden dalam pidatonya. Pemilihan frasa “cukup membanggakan” ketimbang “sangat membanggakan” dinilainya sebagai sinyal halus dari Presiden Prabowo bahwa jajaran pembantunya masih memiliki tumpukan pekerjaan rumah (PR) besar yang wajib diselesaikan.

“Coba disimak baik-baik, saat itu Pak Prabowo bilang ‘cukup membanggakan’, bukan ‘sangat membanggakan’. Itu buat saya seperti cara halus seorang presiden untuk bilang ‘lumayan, tapi PR-nya masih banyak,’ gitu,” ujar Hensa.

Oleh karena itu, Hensa mewanti-wanti seluruh pejabat di Kabinet Merah Putih agar tidak berpuas diri atau terbuai oleh sanjungan Istana, mengingat masih luasnya ruang pembenahan pada efektivitas eksekusi program pembangunan nasional.

“Pujian presiden itu vitamin buat menteri. Asal jangan berubah jadi obat tidur, harusnya mereka sadar juga kalau ini kembali dibela kinerja mereka,” katanya.

Analis politik itu pun menandaskan bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah pemerintahan tidak cukup diukur dari rilis narasi Istana semata, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah dan bawah di kehidupan sehari-hari.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *