News

IHSG Anjlok dan Jadi Stand Alone Market, Peneliti ISEAS: Problem Ekonomi Kita Bukan MSCI, Tapi Rezim Ini



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menilai penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI menjadi ‘stand alone market’ bukan sekadar soal sentimen pasar, melainkan cerminan problem mendasar pada rezim yang berkuasa saat ini.

Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto terlihat kecewa bahkan marah atas apa yang terjadi pada ekonomi pekan lalu. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-75, MSCI memberikan pukulan telak.

“Lembaga pemeringkat pasar saham itu memberikan status ‘stand alone’ market kepada Indonesia. Ini peringkat yang lebih bermasalah daripada ‘frontier,’ yang diancam akan diberikan kepada Indonesia jika bursa saham tidak memperbaiki transparansinya,” ujar Made dikutip fajar.co.id dari akun media sosialnya, Kamis (22/10/2026).

Made menjelaskan, status stand alone itu diberikan setelah berbagai peringatan dilayangkan kepada Indonesia. Penilaian lembaga pemeringkat bukan sentimen belaka, melainkan untuk memberi jaminan keamanan bagi pemodal yang menanamkan uangnya.

“Dan ratusan bahkan ribuan triliun dipertaruhkan. Ketika sebuah lembaga pemeringkat menaikkan status, maka para pemodal akan melihat bahwa investasinya aman dan menguntungkan,” katanya.

Dampaknya langsung terasa. Ketika MSCI menurunkan status, bursa saham langsung ambruk lebih dari 11 persen dalam sepekan. IHSG bahkan terkoreksi 41,8 persen dari level puncaknya pada Januari 2026.

Kritik Pidato Prabowo

Made menyoroti pidato Presiden Prabowo dalam rapat kabinet yang menurutnya tidak menawarkan solusi kebijakan.

Presiden Prabowo sempat mengatakan, “Kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak, kita terus diadang, ada apa itu? Macam-macam lah. MSCI, macam-macam. Dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapapun, dan tidak akan gentar.”

Presiden juga menegaskan akan melakukan penghematan besar-besaran.

“Saudara sekalian, kita tidak takut. Kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban dan kita tidak mengenal menyerah. Kalau perlu, kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti,” ujar Prabowo yang dikutip Made.

Menurut Made, tidak ada policy proposal dalam pidato itu. Tidak ada tawaran jalan keluar, tidak ada peta yang jelas mengapa Indonesia sampai pada situasi ini dan langkah apa yang harus diambil.

“Yang terjadi kemudian adalah Prabowo menyerang MSCI. Dia menuduh MSCI menakut-nakuti dan sebagai jawabannya, ‘Indonesia tidak takut!’ Andaikata keberanian saja sudah cukup untuk menyelesaikan masalah ini, tentu tidak akan muncul downgrading ke stand alone itu,” tegas Made.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *