BusinessNews

Karhutla Kembali Memakan Korban, Legislator: Berapa Banyak Lagi Nyawa Warga Dipertaruhkan?


Anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali memakan korban. Baik korban tewas akibat kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, maupun korban karhutla di Kalimantan.

Daniel Johan pun menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya 4 petugas dan relawan dalam penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Keempat orang yang tewas itu terdiri atas 2 relawan dari Menggala Api dan 2 petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).

“Kita kembali berduka atas hilangnya nyawa para petugas dan relawan akibat kebakaran hutan dan lahan, termasuk yang baru terjadi beberapa hari lalu di kawasan Bromo. Kami turut merasakan kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” kata Daniel Johan pada Senin (19/10).

Seperti diketahui, karhutla yang menewaskan 4 orang ini berawal kebakaran ladang milik warga di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan TNBTS, tepatnya di wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo. Para petugas, relawan, perangkat desa, dan warga melakukan pemadaman api.

Medan yang sulit dijangkau dan jauhnya sumber air membuat petugas tidak dapat menggunakan mesin penyemprot air. Pemadaman akhirnya dilakukan secara manual menggunakan alat gebyok. Angin kencang membuat api bergerak dan menjebak sejumlah personel di tengah kobaran.

Setelah kobaran api mereda, tim melakukan pencarian terhadap 6 personel yang terjebak. Dari jumlah itu, 3 orang ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan satu korban lainnya mengembuskan napas terakhir setelah sempat mendapat perawatan di rumah sakit. Kejadian tersebut turut menyebabkan 2 orang relawan lainnya menderita luka bakar serius.

“Peristiwa ini memerlukan pemeriksaan yang cermat untuk mengungkap keadaan saat tim terjebak serta menentukan penguatan keselamatan operasi yang perlu segera dilakukan,” kata Daniel.

Daniel pun mendorong Kementerian Kehutanan bersama pengelola kawasan meninjau kembali penugasan pada sektor berisiko tinggi.

“Penilaian perlu mencakup kondisi medan, perubahan arah api dan angin, kepadatan asap, jalur penyelamatan, serta kemampuan komunikasi antar tim,” tutur Daniel.

“Setiap keputusan mengirim tim ke lokasi harus disertai kepastian mengenai risiko, jalur keluar, dan dukungan pertolongan. Ketika keadaan berubah, pimpinan operasi perlu memiliki informasi serta kewenangan untuk segera menyesuaikan penugasan,” ujar Daniel.

Daniel juga meminta pengelola kawasan Bromo memastikan setiap orang yang terlibat memiliki pembagian tugas sesuai kemampuan dan pelatihannya.

“Petugas, relawan, serta masyarakat pendukung perlu mengetahui batas penugasan, saluran komunikasi, dan tindakan ketika menghadapi keadaan berbahaya,” kata politisi PKB itu.

“Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tahap pemadaman,” kata Daniel.

Selain di Bromo, karhutla juga memakan korban jiwa di Samarinda, Kalimatan Timur. Di tengah kobaran api yang membesar dan angin yang mengubah arah rambatan kebakaran, seorang warga berusaha melakukan sesuatu agar api tidak mendekati permukiman.

Warga tersebut adalah LJ, pria berusia 60 tahun yang pada 13 Oktober lalu bersama sejumlah warga berupaya memadamkan api secara mandiri untuk mencegah kebakaran meluas ke permukiman.

Namun, upaya itu berakhir tragis. LJ mengalami luka bakar sekitar 60% pada tubuhnya dan sempat mendapatkan perawatan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda dan meninggal dunia keesokan harinya akibat luka bakar serius dan paparan panas.

Menurut Daniel, kepergian lansia LJ bukan sekadar kabar tentang satu korban dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan

“Di balik peristiwa tersebut, ada gambaran tentang warga yang berusaha melindungi lingkungan tempat tinggalnya, tetapi harus menghadapi bahaya kebakaran dengan kemampuan yang terbatas,” kata Daniel.

“Keputusan warga untuk membantu memadamkan api dapat dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan orang-orang di sekitarnya,” tambah Daniel.

Anggota Komisi Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPR ini menilai peristiwa di Samarinda memperlihatkan bahwa niat baik tidak selalu cukup untuk menghadapi risiko sebesar itu. Menurut Daniel, warga yang tidak memiliki pelatihan, perlengkapan pelindung, dan peralatan pemadaman yang memadai dapat
berada dalam bahaya serius ketika mencoba menghadapi kobaran api.

“Karena itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi agar tidak memasuki area kebakaran yang berbahaya tanpa kemampuan dan perlindungan yang sesuai. Ketika api membesar atau bergerak tidak terkendali, prioritas utama adalah menyelamatkan diri, menjauh dari jalur rambatan api, dan segera menghubungi petugas,” kata Daniel.

Daniel juga menyoroti peristiwa meninggalnya seorang balita berusia 1 tahun, warga Kecamatan Palaran, Samarinda, setelah mengalami sesak napas pada 15 Oktober 2026. Keluarga menduga paparan asap karhutla yang menyelimuti kawasan Palaran turut memicu gangguan pernapasan yang dialami korban.

“Hampir setiap hari kita mendengar kabar buruk mengenai Karhutla. Berapa banyak lagi nyawa warga harus dipertaruhkan karena hutan dan lahan dibakar demi kepentingan ekonomi sejumlah pihak?” ujar Daniel.

Meski pihak rumah sakit menyebut perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kabut asap karhutla yang menyebabkan balita di Samarinda mengalami gangguan pernapasan hingga berujung meninggal, Daniel mengingatkan kondisi karhutla yang parah tidak bisa dibantah lagi.

“Palangka Raya dan sejumlah daerah di Kalimantan punya kualitas udara tidak sehat dan berbahaya akibat karhutla berdasarkan hasil nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Ini science dan ada ukuran berdasarkan sistem pemantauan,” kata Daniel.

“Bahkan secara manual, kita lihat udara di Kalimantan sampai menguning dan jarak pandang sangat memprihatinkan karena pekatnya kabut asap karhutla. Ini bukan suatu hal yang bisa ditutupi. Kabut asap karhutla juga sudah sampai di Jakarta dan daerah lain, bahkan ke negara tetangga,” ujar Daniel.

Untuk itu, Daniel meminta pemerintah bekerja lebih serius untuk mengatasi karhutla.

“Saat ini yang teriak bukan hanya warga Indonesia, bahkan masyarakat dan otoritas negara tetangga yang ikut terkena imbas karhutla juga sudah meminta pertanggungjawaban Pemerintah Indonesia,” ungkap Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I itu.

Selain soal karhutla, Daniel juga meminta pemerintah mengantisipasi risiko El Nino Godzilla dan 2 wajah cuaca di mana terjadi bencana kekeringan sekaligus hujan ekstrem akibat 2 fenomena iklim utama yang memengaruhi cuaca Indonesia.

Adapun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang ‘terbelah’ di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Sebagian wilayah diperkirakan mengalami kekeringan, sedangkan wilayah lain berisiko menghadapi curah hujan tinggi.

“Pemerintah juga harus mengantisipasi bencana kekeringan, longsor, banjir bandang seperti yang sudah terjadi di Sumatera karena El Nino Godzilla dan dua wajah cuaca, kekeringan dan hujan ektrem, apalagi penyanggah hutan sudah habis terbakar, DAS juga banyak rusak,” kata Daniel.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *