News

Listyo Sigit Dicopot Lebih Cepat, Bocor Alus Tempo Ungkap Dugaan Keterlibatannya Bantu PSI



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Laporan investigasi mingguan Majalah Tempo melalui siniar Bocor Alus Politik kembali menguak dinamika kekuasaan di Istana.

Keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti sejumlah pejabat era Presiden Joko Widodo ternyata menyimpan cerita panas di balik layar, termasuk pencopotan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri yang dipercepat dari jadwal semula.

Dikutip fajar.co.id dari siniar tersebut, Sabtu (17/10/2026) langkah cepat Presiden Prabowo mencopot Listyo Sigit pada 1 Oktober lalu dipicu informasi intelijen dan laporan sejumlah narasumber.

Prabowo disebut menerima laporan dugaan keterlibatan aparat kepolisian yang membantu pemenangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) serta mengawal safari politik Jokowi ke berbagai daerah.

Pergeseran Jadwal dan Peran Lobi Politik

Semula, pergantian pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara tidak diagendakan mendadak pada awal Oktober. Berdasarkan diskusi di internal Mabes Polri maupun lingkaran dekat Istana, perombakan kursi Kapolri dijadwalkan antara akhir Oktober atau awal Januari mendatang.

Namun situasi berubah pada malam 30 September. Presiden Prabowo mengirimkan surat presiden (surpres) pergantian Kapolri secara kilat ke DPR RI.

Dalam proses transisi tersebut, nama Suyudi Ario dipilih untuk menggantikan Listyo Sigit. Berdasarkan catatan desk hukum Tempo, Suyudi dikenal memiliki kedekatan dengan Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Di sisi lain, Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menegaskan perombakan di tubuh kepolisian murni langkah pembenahan internal institusi dan menepis adanya muatan politis di balik pencopotan tersebut.

Penolakan Tawaran Menteri hingga Pelabuhan Baru di KSP

Menariknya, sebelum resmi dicopot, Listyo Sigit sempat diajak berdiskusi oleh orang dekat Presiden Prabowo terkait posisi masa depannya. Listyo mulanya ditawarkan untuk mengisi posisi di beberapa kementerian teknis.

Namun tawaran tersebut ditolak karena Listyo merasa tidak memiliki latar belakang keahlian di bidang kementerian teknis yang disodorkan. Sebagai gantinya, ia mengusulkan diri untuk memimpin Kantor Staf Presiden (KSP).

Penempatan ini dinilai strategis untuk membantu merampungkan sejumlah proyek infrastruktur warisan era Jokowi yang sempat mengalami hambatan, seperti kelanjutan ruas Jalan Tol Trans-Sumatera hingga ke Aceh.

Meski pergeseran posisi telah dipersiapkan, kepastian waktu eksekusi pencopotan baru diterima Listyo secara mendadak pada pagi 1 Oktober saat menghadiri upacara kenegaraan di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Evaluasi Kinerja dan Dampak Rotasi Internal

Pergantian kepemimpinan ini langsung diikuti gelombang rotasi besar-besaran di tubuh kepolisian. Tak kurang dari 88 perwira menengah dan tinggi dirotasi, termasuk 19 posisi Kapolda yang diterbitkan lewat telegram resmi Polri kurang dari 24 jam pasca-pelantikan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *