Karpet Merah untuk Jokowi Jadi Ketum PSI Disebut Lompatan Logika yang Memalukan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik, Heru Subagia, merespons wacana menjadika Jokowi sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Ia menilai, dorongan tersebut muncul di tengah berbagai persoalan politik yang menurutnya sedang membayangi keluarga Jokowi.
Heru secara khusus menanggapi pernyataan Ketua DPD PSI Kabupaten Cirebon, Kapten Harianto, yang viral setelah menyodorkan karpet merah kepada Jokowi untuk memimpin PSI dalam sebuah acara di Solo.
Dikatakan Heru, manuver tersebut mencerminkan cara pandang politik lokal yang dinilainya kurang mempertimbangkan dinamika politik nasional, terutama kondisi elektabilitas PSI dan respons masyarakat terhadap figur Jokowi.
Ia juga mempertanyakan anggapan bahwa popularitas Jokowi secara otomatis dapat mendongkrak perolehan suara PSI, khususnya di Jawa Barat.
Heru Sebut Manuver PSI Cirebon Gegabah
Heru menuturkan, pernyataan Harianto yang mengklaim dukungan masyarakat Jawa Barat dan Cirebon terhadap Jokowi untuk menjadi Ketua Umum PSI perlu diuji dengan melihat kondisi politik di wilayah tersebut.
“Jawa Barat, dengan 35,7 juta lebih pemilih, bukanlah tanah kosong tanpa tuan yang bisa dicaplok begitu saja lewat jualan efek Jokowi,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Jumat (16/10/2026).
Kata dia, peta politik Jawa Barat telah diisi partai-partai besar yang memiliki basis pemilih masing-masing.
Karena itu, upaya mengaitkan popularitas Jokowi dengan dukungan terhadap PSI dinilai tidak bisa dilakukan secara sederhana.
Heru juga menilai isu nepotisme dan pemusatan kekuasaan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan ketika membicarakan respons pemilih di wilayah tersebut.
“Menjual nama Jokowi di Jawa Barat hari ini justru memicu resistensi, karena karakter pemilih Jabar sangat sensitif terhadap isu-isu nepotisme dan pemaksaan kekuasaan. Mengklaim suara Jabar untuk PSI adalah lompatan logika yang sangat memalukan,” tukasnya.
Safari Politik Jokowi di Jawa Barat
Heru turut menyentil rangkaian safari politik Jokowi di sejumlah daerah di Jawa Barat, termasuk Kota Bandung dan Bekasi.
Menurut dia, kegiatan tersebut belum menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan elektabilitas PSI.
Ia menambahkan, popularitas personal Jokowi tidak serta-merta berbanding lurus dengan dukungan masyarakat kepada partai yang kini menjadi kendaraan politiknya.
“Alih-alih menaikkan elektabilitas PSI ke ranah nasional, yang terjadi justru stagnasi. Tidak ada korelasi linier antara popularitas personal Jokowi dengan syahwat politik PSI,” kata Heru.
Ia bahkan menyimpulkan, berdasarkan pengamatannya, pengaruh politik Jokowi di Jawa Barat tidak lagi sekuat yang dibayangkan sebagian pihak.
Source link
