News

Prof Anwar Daud Ungkap Bahaya Udara Buruk di Makassar: Bisa Picu ISPA, Asma, hingga Penyakit Paru Obstruktif Kronis



PORTALUTAMA.NET,MAKASSAR — Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Anwar Daud menyebut kualitas udara yang buruk di Makassar belakangan ini berbahaya bagi kesehatan.

Hal tersebut menanggapi pantauan platform pemantau kualitas udara, IQAir dan http://AQI.in, yang mencatat indeks polusi berada di level tidak sehat.

Kualitas udara Makassar pagi ini tercatat memiliki Air Quality Index (AQI) 102 dengan kategori Unhealthy for Sensitive Groups atau Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif. 

“Dari sudut pandang kesehatan masyarakat dan epidemiologi lingkungan, kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi,” kata Anwar Daud kepada fajar.co.id, Sabtu (3/10/2026).

Apalagi, kata pria yang karib disapa Anda itu, polutan yang dominan ialah partikulat halus seperti PM2,5. Partikel halu ini, kata dia, sangat berbahaya.

“Sangat berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil memungkinkannya lolos dari saingan bulu hidung dan masuk hingga ke alveoli paru-paru. Bahkan meresap ke aliran darah,” jelasnya.

Jika itu terjadi, Anda bilang, akibatnya bisa fatal. Dapat memicu berbagai macam penyakit, seperti iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, hinngga kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Dapat memicu lonjakan kasus ISPA, kekambuhan pada penderita penyakit kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK),” terang Anda.

Paling rentan, kata Anda, yakni kelompok rentan. Seperti anak-anak dan lanjut usia (lansia).

“Anak-anak saluran pernapasannya masi berkembang. Kemudian lansia gungsi cadangan fisiologisnya umumnya sudah menurun,” ucap Anda.

“Selain itu, yang rentan ialah ibu hamil, pekerja luar ruang, serta indiviru dengan riwayat penyakir kardiovaskulat dan respirasi,” sambung Anda.

Penguatan Mitigasi

Anda mendorong pencegahan berbasis risiko. Bukan pendekatan reaktif yang menunggu masyarakat jatuh sakit lalu direspons.

Langkah taktis yang bisa dilakukan, kata Anda, melakukan transformasi data menjadi aksi cepat. Perlu menerjemahkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) ke dalam bahasa komunikasi risiko yang mudah dipahami publik.

“Juga mengurangi durasi ataumenunda aktivitas fisik yang intens di luar ruangan, terutamabagi kelompok rentan dan institusi pendidikan,” ungkapnya.

Selanjutnya, kalaupun keluar rumah, Anda merekomendasikan penggunaan masker. Terutama masker medis. Serta perbanyak minum air putih.

“Asupan cairan yang cukupmembantu menjaga kelembapan selaput lendir di saluranpernapasan, sehingga mekanisme pertahanan alami tubuhdalam menyaring debu dan polutan bekerja lebih efektif,” ucapnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *