News

Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Ahmad Tsauri Ungkap Strategi Politik Dua Kaki



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Penunjukan pengamat politik Rocky Gerung sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menuai sorotan dari penulis yang juga analis kebijakan publik, Ahmad Tsauri.

Menurutnya, posisi baru tersebut seolah mengonfirmasi arah dan ‘motor penggerak’ di balik narasi kritis yang dilontarkan Rocky selama ini.

Ahmad Tsauri menilai, fenomena sosok seperti Rocky Gerung, Roy Suryo, hingga Denny Indrayana tidak terlepas dari dinamika dan kepentingan politik tertentu.

“Rocky Gerung jadi Wantimpres itu hanya mengonfirmasi siapa yang selama ini memberinya ‘baterai’ dan amunisi bicara. Pun demikian dengan Roy Suryo dan Denny Indrayana, siapa yang ‘menyetel’ dan siapa yang mendapat manfaatnya,” ujar Ahmad Tsauri dikutip dari unggahan di media sosialnya, Jumat (2/10/2026).

Ia juga menyoroti manuver hukum Denny Indrayana di Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat ini tengah berlangsung. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi politik dua kaki yang menguntungkan posisi Prabowo Subianto untuk mengikis pengaruh politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

“Pengaruh Pak Jokowi di tengah masyarakat itu sangat kuat, super kuat. Citra buruknya seakan-akan hanya masif di media sosial saja. Jika gugatan Denny tidak menguntungkan Prabowo, hiruk-pikuk di MK pasti sudah terhenti sejak awal. Sekuat itu kekuasaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tsauri mengkritik konsistensi para kritikus. Ia menyindir narasi “akal sehat” yang digaungkan Rocky Gerung yang dinilainya perlahan meredup setelah peta politik bergeser.

“Setelah Prabowo duduk di kursi pemerintahan, kritik keras atas dasar ‘akal sehat’ ala Rocky Gerung seolah hilang sendiri. Padahal, jika kebijakan infrastruktur, rekayasa demografi IKN, hingga kereta cepat di era Jokowi dianggap tidak masuk akal, kebijakan pemerintah saat ini justru dinilai jauh lebih ugal-ugalan,” kritiknya.

Melihat kondisi tersebut, Ahmad Tsauri mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah pandangan para pengamat maupun analis politik di ruang publik.

“Rakyat harus bisa berpikir mandiri, jangan taklid kepada pengamat. Figur yang dulunya dikenal kritis dan independen saja idealismenya bisa raib, apalagi yang sejak lama disinyalir memiliki kedekatan dengan panggung politik kekuasaan,” tuturnya.

Sebagai analis independen, Tsauri menegaskan posisinya yang berdiri di atas kepentingan publik tanpa afiliasi kelompok manapun.

“Saya mandiri, bukan ‘Anak Abah’ apalagi marhaennya Bu Mega. Saya hanya bagian dari masyarakat yang sangat menyayangkan jika uang pajak rakyat dihambur-hamburkan untuk program dan penganggaran yang serampangan,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *