Viral Pungli di Alun-alun Kidul, Potret Alasan Investor Enggan ke Indonesia?

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dugaan pungutan liar (pungli) terhadap pelaku usaha di kawasan Alun-alun Kidul Yogyakarta menjadi sorotan.
Diaspora Indonesia yang juga konten kreator, Dimas Budi Prasetyo, ikut menanggapi. Dia mengaku prihatin dengan pungli yang menimpa pemilik usaha kuliner Bolosego tersebut.
“Melihat video penjelasan mbak-mbak ini saya jadi ngenes banget. Pemilik atau owner merek kuliner Bolosego ini, dengan suara bergetar dan sangat hati-hati, menjelaskan bagaimana susahnya membuka usaha dengan segala tantangannya,” tulis Dimas melalui akun Facebook pribadinya, dikutip fajar.co.id pada Senin (21/9/2026).
Pemilik Bolosego disebut hendak membuka lapak food truck di kawasan Alun-alun Kidul Yogyakarta. Menurut Dimas, persoalan awal yang dihadapi berkaitan dengan birokrasi dan perizinan.
“Dia rencana akan membuka lapak food truck di kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Awalnya, dia menceritakan tantangan berupa birokrasi atau izin,” tulis Dimas.
Setelah proses tersebut selesai, pemilik usaha disebut telah memperoleh izin resmi untuk berjualan. Persoalan justru muncul setelah izin tersebut didapatkan.
“Selesai, dia mendapat izin resmi untuk berjualan. Nah, masalah terjadi kemudian setelahnya,” lanjut Dimas.
Usaha itu awalnya direncanakan buka selama lima hari. Namun, menurut Dimas, operasional hanya berlangsung satu hari karena muncul persoalan biaya tambahan.
“Baru satu hari buka, dari yang
rencananya akan buka selama lima hari, mereka harus menerima kenyataan bahwa punglinya nggak main-main,” ungkapnya.
Salah satu biaya yang disoroti ialah parkir food truck. Dimas menyebut pemilik usaha awalnya diminta membayar Rp2,5 juta per hari.
“Untuk parkir food truck, mereka diharuskan bayar Rp2,5 juta sehari! Setelah nego, akhirnya dapat Rp1 juta sehari,” tulis Dimas.
Menurut Dimas, persoalan tidak berhenti pada biaya parkir. Pemilik usaha juga disebut harus menyediakan makanan untuk 10 orang yang disebut sebagai preman sekitar dengan alasan jasa pengamanan.
“Bayangin, itu parkir buat kendaraan food truck aja. Tidak berhenti sampai situ, mereka harus memberi makan 10 orang preman sekitar sebagai ‘jasa pengamanan’,” tulisnya.
Dimas kemudian menyoroti dugaan permintaan lain yang disebut datang dari oknum kepolisian. Permintaan tersebut disampaikan melalui telepon.
“Ini yang kemudian paling gong. Mereka ditelepon oleh oknum kepolisian, yang meminta jatah makan untuk tiga orang,” tulis Dimas, yang juga seorang pelaku usaha.
Dimas mengaku tidak terkejut dengan informasi tersebut. Dia kemudian menyebut persoalan lain yang membuat pemilik usaha akhirnya memilih berhenti.
Source link
