News

Dituduh Sombong dan ‘Omong Gede’, Menkeu Purbaya Buka Suara: Itu Strategi Ekonomi



PORTALUTAMA.NET, ​JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya merespons santai berbagai kritik dan tudingan miring yang mengarah kepadanya selama satu tahun menjabat.

Purbaya kerap dinilai terlalu percaya diri, sesumbar, hingga dicap “omong gede” oleh publik lantaran selalu menyuarakan nada optimis di tengah situasi perekonomian yang penuh tantangan.

DIa menegaskan, gaya komunikasinya yang terkesan agresif dan vokal tersebut bukanlah bentuk kesombongan pribadi. Langkah itu murni bagian dari strategi kalkulatif demi menyelamatkan psikologi pasar dan memulihkan kepercayaan masyarakat secara cepat.

​Langkah Darurat Pasca-Gelombang Demonstrasi

​Awal masa jabatan Purbaya tidak dilalui di atas karpet merah. Saat resmi dilantik sebagai Bendahara Negara, kondisi sosial-politik Indonesia sedang memanas akibat gelombang demonstrasi besar-besaran. Situasi tersebut sempat memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku usaha dan investor.​

Purbaya menyadari bahwa resiko terbesar saat itu bukan hanya kerusakan fisik atau ketegangan politik, melainkan runtuhnya rasa percaya (confidence) masyarakat terhadap stabilitas ekonomi nasional.

​”Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya,” kata Purbaya, dikutip fajar.co.id pada Rabu (9/9/2026).

​Dalam kondisi serba mendesak tersebut, intervensi kebijakan fiskal saja tidak akan cukup fleksibel untuk memberikan dampak instan. Oleh karena itu, komunikasi publik menjadi senjata utama yang harus dioptimalkan.

Purbaya memilih mengambil peran vokal guna memberi sinyal kuat kepada pasar bahwa pemerintah memegang kendali penuh dan ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang aman.

​Penerapan Teori Self-Fulfilling Prophecies

​Secara teoritis, tindakan Purbaya didasari oleh konsep akademis yang terukur dalam ilmu ekonomi makro. Ia memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai macroeconomics of self-fulfilling prophecies atau ramalan makroekonomi yang mewujudkan dirinya sendiri.

​Teori ini menjelaskan bahwa ekspektasi dan persepsi kolektif masyarakat terhadap masa depan dapat secara nyata mengubah arah pergerakan ekonomi itu sendiri. Jika publik percaya ekonomi akan membaik, tindakan riil mereka akan mendorong ekonomi menuju perbaikan.

Sebaliknya, jika ketakutan memicu persepsi negatif, perekonomian bisa benar-benar masuk ke jurang krisis.
​”Caranya bagaimana? Saya terapkan pengetahuan yang sudah saya pelajari, macroeconomics of self-fulfilling prophecies. Jadi, kita membentuk ekspektasi, dari ekspektasi itu nanti biasanya ekonomi yang berjalan ke arah sana,” ujarnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *