Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Menyebar 5 Hari, Prof Erma Ungkap Penyebabnya

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Ahli Iklim dan Cuaca Ekstrem Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Erma Yulihastin, membeberkan perkiraan waktu penyebaran abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau.
Prof Erma menjelaskan bahwa letusan dengan kolom abu yang hampir menembus tropopause dapat membawa material sulfur menyebar di atmosfer.
“Berapa lama abu vulkanik yang dihasilkan oleh letusan utama dengan kolom yang tingginya hampir menembus tropopause itu dapat menyebarluaskan material sulfur di atmosfer?” kata Prof Erma, dikutip dari unggahannya di X, Senin (7/9/2026).
Menurut Erma, abu vulkanik dapat bertahan dan tersebar hingga sekitar lima hari apabila tidak terjadi hujan.
“Secara umum, jika tidak ada hujan sama sekali sekitar 5 hari,” ujarnya.
Terkait arah penyebaran abu vulkanik, Erma mengatakan hal tersebut sangat bergantung pada kondisi angin di berbagai lapisan atmosfer.
“Arah penyebaran tergantung arah angin pada setiap level ketinggian atmosfer,” terangnya.
Ia menjelaskan, penyebaran abu vulkanik menuju Jawa tidak hanya dipengaruhi arah angin di permukaan. Perbedaan arah angin pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi juga turut menentukan.
“Mengapa abu tidak menuju ke arah Sumatera saja, padahal angin di permukaan menuju ke barat (barat laut)? Itu karena arah angin di level atasnya berbeda-beda, ada yang menuju ke timur dan ke selatan,” ucapnya.
“Intinya, kalau kolom abunya tinggi, untuk luruh kembali bisa terdistribusi ke segala arah,” sambungnya.
Erma berharap tidak terjadi letusan susulan Gunung Anak Krakatau.
“Berikut arah angin dari data model yang dikembangkan BRIN. Semoga tak ada letusan kembali,” ucapnya.
Di sisi lain, Erma mengimbau masyarakat di Jawa Barat dan Lampung untuk tetap menggunakan masker sebagai langkah antisipasi.
“Warga di Jawa bagian Barat-Lampung agar pakai masker, ya. Terus kita pantau bareng perkembangan distribusi sulfurnya,” imbuhnya.
Erupsi Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau diketahui kembali mengalami erupsi sejak Jumat malam, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026.
Kondisi erupsi tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava.
Aktivitas tersebut juga disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran.
Akibat aktivitas vulkanik tersebut, status Gunung Anak Krakatau kini berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Source link
