News

Daripada MBG Terus Dipasok Terpusat, Dosen UGM Usul Bekal Anak dari Rumah Diberi Insentif Rp10 Ribu per Poin Gizi



PORTALUTAMA.NET, YOGYAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Abdul Gaffar Karim, mengkritik tata kelola program tersebut di tengah munculnya kasus keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa.

Kritik itu disampaikan Gaffar melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Sabtu (5/9/2026). Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi pola pelaksanaan MBG apabila tujuan utama program tersebut adalah memastikan pemenuhan gizi anak sekolah.

Gaffar menyoroti pengalaman seorang siswa yang terhindar dari persoalan keracunan setelah membawa bekal makanan yang disiapkan ibunya dari rumah. Menurutnya, kejadian tersebut dapat menjadi gambaran mengenai alternatif pola pemenuhan gizi siswa.

“Ini memang cuma satu kejadian kecil. Tapi kejadian kecil memang kerap mewakili sebuah hal besar. Jika niat pemerintahan hari ini adalah memperbaiki gizi murid (bukan ngecer-ecer proyek pengadaan MBG), lebih baik serahkan urusan itu pada orang tua mereka masing-masing,” ujar Abdul Gaffar Karim.

Gaffar kemudian menawarkan skema yang disebut Assessment & Reimbursement. Dalam skema tersebut, siswa membawa bekal sehat yang disiapkan orang tua untuk dikonsumsi saat jam makan di sekolah.

Melalui mekanisme assessment, wali kelas dapat memeriksa kelengkapan nutrisi bekal siswa. Bekal yang memenuhi kriteria kecukupan gizi kemudian mendapatkan satu poin.

Sementara melalui mekanisme reimbursement, orang tua memperoleh insentif berdasarkan jumlah poin yang dikumpulkan anak. Gaffar mengusulkan setiap poin bernilai Rp10.000.

Dengan target 25 poin dalam satu bulan, orang tua dapat menerima insentif hingga Rp250.000 per anak setiap bulan. Menurut Gaffar, skema tersebut dapat membuat orang tua terlibat langsung dalam memastikan makanan yang dikonsumsi anak.

“Saya yakin cara seperti ini bakal menghindarkan banyak orang dari uang haram korupsi MBG,” tegasnya.

Usulan tersebut juga memunculkan tanggapan dari warganet. Sebagian menilai pola berbasis keluarga dapat menjaga pemenuhan gizi anak sekaligus memberikan dampak ekonomi kepada pelaku usaha kecil jika bahan makanan maupun katering diperoleh dari lingkungan sekitar.

Salah satu warganet, Maz Ain Zung, menilai skema tersebut berpotensi memberikan manfaat ganda.

“Program bergizi tetap jalan, warung-warung dan pedagang kecil dapet efeknya,” tulisnya di kolom komentar.

Warganet lainnya, Ari Budiyarto, turut menyoroti risiko pengelolaan makanan dalam jumlah besar. Ia mengusulkan agar pengadaan makanan melibatkan orang tua dan pelaku usaha lokal dengan tetap disertai pengawasan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *