News

Organisasi Mahasiswa FUF UIN Alauddin: Militerisme di Dunia Pendidikan Tak Bisa Diterima



PORTALUTAMA.NET,MAKASSAR — Organisasi kemahasiswaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar menegaskan tolak militerisme di kampus.

Mereka yang terdiri dari Dema Fakultas, Sema Fakultas, dan tujuh Himpunan Mahasiswa Program Studi, menegaskan sikap untuk tidak diam terhadap mahasiswa baru (maba) yang diancam karena menolak militer masuk kampus.

Hal tersebut menanggapi ancaman drop out (DO) terhadap sejumlah maba yang melakukan aksi penolakan militer masuk kampus saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026.

“Mereka datang ke kampus untuk belajar, berpikir, berdiskusi, dan mengenal kehidupan akademik, sehingga menyampaikan pandangan kritis terhadap persoalan yang menyangkut dunia pendidikan merupakan bagian dari proses tersebut,” kata Ketua Ketua DEMA FUF UIN Alauddin Makassar Naufal kepada fajar.co.id melalui keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).

Lembaga kemahasiswaan FUF menyayangkan adanya tindakan ancaman terhadap maba dalam proses penyampaian sikap tersebut. Menurut Naufal, maba Mahasiswa baru bukanlah pihak yang sedang memusuhi kampus. 

“Mereka adalah bagian dari keluarga akademik FUF yang sedang belajar menggunakan haknya untuk berpikir dan menyampaikan pendapat,” ujarnya.

Ancaman terhadap maba, menurutnya bukanlah wajah dari budaya akademik. Dia menilai, tindakan represif tidak pernah menjadi representasi dari kampus yang mengatasnamakan dirinya sebagai kampus peradaban.

“Kampus yang mengaku sebagai ruang peradaban semestinya melahirkan keberanian untuk berpikir, kebebasan untuk menyampaikan pendapat, serta kedewasaan dalam menghadapi perbedaan,” ucapnya.

Naufal menyebut, aksi yang dilakukan maba saat PBAK bukanlah bentuk perlawanan terhadap kampus ataupun fakultas. Dia juga mengatakan pihakny.

“Justru, sikap ini lahir dari kepedulian terhadap masa depan pendidikan dan keinginan untuk menjaga kampus tetap menjadi ruang akademik yang merdeka, kritis, dialogis, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan,” ujar Naufal.

“Yang menjadi persoalan bukanlah kampusnya, bukan pula fakultasnya, melainkan gagasan dan praktik militerisasi di dalam dunia pendidikan,” sambung Naufal.

Karenanya, dia menilai kehadiran militer dalam ruang pendidikan yang semestinya menjadi ruang intelektual, dialogis, dan kritis, merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan secara serius. 

“Bagi lembaga kemahasiswaan FUF, militerisasi dalam dunia pendidikan merupakan persoalan yang tidak dapat diterima begitu saja, sebab pendidikan semestinya dibangun melalui ilmu pengetahuan, argumentasi, dialog, dan kebebasan berpikir, bukan melalui tekanan maupun pendekatan represif,” jelasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *