Sidang Dakwaan Ulang Dokter Tifa, Ia Tegaskan Terdakwa Belum Tentu Bersalah: Saya Sedang Mempertahankan Kehormatan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dokter Tifauzia Tyasumma alias Dokter Tifa mengungkap pandangannya selama menjalani proses hukum sebagai terdakwa. Ia menyebut status tersebut menghadirkan ironi bagi dirinya sebagai ilmuwan yang terbiasa bekerja berdasarkan pertanyaan, data, dan pembuktian.
Dokter Tifa kembali menjalani sidang pembacaan dakwaan ulang atau dakwaan kedua di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (27/8/2026). Sidang digelar kembali setelah majelis hakim sebelumnya membatalkan dan mengembalikan surat dakwaan pertama kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) karena dinilai tidak cermat.
Tifa mengatakan, menjadi terdakwa merupakan pengalaman yang penuh paradoks. Sebagai ilmuwan, ia selama ini terbiasa mempertanyakan setiap klaim dan menguji bukti yang ada.
“Ada sebuah ironi besar ketika saya, seorang ilmuwan duduk di kursi terdakwa. Seumur hidup saya dilatih untuk menghadapi pertanyaan,” ujar Tifa, dikutip fajar.co.id, Jumat (28/8/2026).
Ia mengatakan, berbagai pertanyaan yang selama ini biasa diajukan dalam proses ilmiah kini justru diarahkan kepadanya dalam proses persidangan.
“Mengapa? Apa buktinya? Bagaimana mekanismenya? Bisakah hipotesis itu diuji? Tetapi hari ini, pertanyaan itu diarahkan kepada saya,” sebutnya.
Menurut Tifa, status terdakwa bukan sekadar perubahan posisi dalam proses hukum. Ia menilai kondisi tersebut juga dapat memberikan tekanan besar terhadap tubuh dan pikiran seseorang.
“Secara neurosains, menjadi terdakwa bukan sekadar perubahan status hukum, melainkan erubahan konteks biologis, otak berhadapan dengan ancaman, ketidakpastian, evaluasi sosial, dan kemungkinan konsekuensi besar dalam waktu yang bersamaan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, tekanan tersebut membuat seseorang berada dalam kondisi lebih waspada. Namun, di saat yang sama, seseorang tetap dituntut mampu berpikir jernih dan memberikan jawaban secara rasional.
“Apa yang terjadi pada otak, tubuh, dan metabolisme? Sistem deteksi ancaman bekerja. Perhatian menjadi lebih waspada. Tubuh bersiap menghadapi tekanan,” jelasnya.
“Dan pada saat yang sama, korteks prefrontal dituntut tetap bekerja optimal, berpikir jernih, mengingat fakta, memahami pertanyaan, mengendalikan impuls, dan menyusun jawaban,” lanjutnya.
Tifa menyebut kondisi tersebut sebagai paradoks ketika seseorang yang menghadapi tekanan tetap harus menjaga kejernihan berpikir.
“Di sinilah paradoksnya. Otak yang sedang menghadapi ancaman justru diminta menghasilkan kejernihan intelektual,” tuturnya.
Ia mengatakan tantangan tersebut semakin terasa bagi seorang ilmuwan yang terbiasa mengamati dan menguji objek penelitian dari luar.
Source link
