News

Asap Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Jhon Sitorus Sindir Menhut: Raja Juli Sempat-sempatnya Mengikuti Acara PSI



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Gelombang kritik mewarnai media sosial pasca-aksi demonstrasi skala besar yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta.

Perhatian publik tidak hanya tertuju pada jalannya unjuk rasa di ibu kota, melainkan juga bergeser ke penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang tengah mengancam kawasan Sumatra dan Kalimantan.

Salah satu sorotan tajam disampaikan oleh pengamat media sosial Jhon Sitorus melalui akun X miliknya @jhonsitorus_19. Ia mempertanyakan fokus Kementerian Kehutanan di bawah kepemimpinan Raja Juli Antoni dalam menghadapi bencana ekologi ini.

Dalam unggahannya, Jhon menyindir situasi di mana perhatian publik tersedot ke Jakarta sementara wilayah hutan dan taman nasional terus dilahap si jago merah.

“Siapa yang paling menikmati Demo 27 Agustus 2026? Ya Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan. Hutan terbakar, Taman Nasional Hangus, Satwa Gosong, Sawit tetap tumbuh tapi rakyat gak ada yang marah dan demo ke Kementerian Kehutanan,” tulis Jhon Sitorus, dikutip fajar.co.id, Jumat (28/8/2026).

Ia turut mengkritik agenda kunjungan kerja Menhut ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang dituding menyertai kegiatan konsolidasi partai politik.  “Raja Juli bahkan sempat-sempatnya mengikuti acara partai PSI di Berau, luar biasa…👏🤮,” sambungnya.

Kondisi Karhutla dan Eskalasi Regional

Eskalasi kebakaran hutan pada paruh kedua Agustus 2026 ini berada pada tingkat mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan BMKG dan kementerian terkait, ribuan titik panas (hotspot) terdeteksi tersebar di provinsi rawan seperti Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, hingga Sumatera Selatan.

Kebakaran hebat pada kawasan lahan gambut menciptakan kabut asap pekat yang mengganggu aktivitas masyarakat, mengancam habitat satwa dilindungi, hingga memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Masalah ini bahkan telah melintasi batas negara. Pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam secara resmi menyuarakan keprihatinan atas kabut asap lintas batas (transboundary haze). Beberapa wilayah di Sarawak, Malaysia, mencatat Indeks Pencemaran Udara (IPU) yang masuk dalam kategori tidak sehat. Kedua negara tetangga tersebut bersepakat mendorong penggunaan mekanisme ASEAN untuk merespons ancaman krisis udara regional ini secara efektif.  

Langkah Penanganan dan Respons Pemerintah

Menanggapi meluasnya titik api, Presiden Prabowo Subianto turun tangan secara langsung mengevaluasi penanganan di lapangan. Pemerintah pusat menginstruksikan pengerahan penuh personel TNI, Polri, Manggala Agni, serta helikopter water bombing untuk memadamkan titik api darat dan gambut. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga digelar oleh BMKG guna memicu hujan buatan di atas wilayah yang terdampak.  



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *