Lawan Kekerasan Seksual pada Anak Spesial, Tim Dosen Penerima Hibah PkM Kemendiktisaintek Inovasikan “Smart Pop-Up Book” dan ‘Circle Safety Board” di SLB C YPPLB Makassar
PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), khususnya mereka dengan hambatan intelektual (Tunagrahita), merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap tindakan kekerasan seksual. Keterbatasan kognitif seringkali membuat mereka sulit memahami konsep privasi tubuh dan cara membela diri.
Merespon tantangan tersebut, Tim Dosen Pengabdian Kepada Masyarakat dari STIKES Panakkukang melaksanakan program pemberdayaan masyarakat sekolah yang bertajuk “Optimalisasi Kapasitas Masyarakat Sekolah dalam Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) dan Peningkatan Potensi Personal Defense”.
Kegiatan ini dilaksanakan secara intensif di Sekolah Luar Biasa (SLB) C YPPLB Makassar sepanjang bulan Agustus.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program pengabdian kepada Masyarakat sekma pemberdayaan Masyarakat Hibah Kemendiktisaintek tahun 2026 sebagai wujud nyata kontribusi akademisi dalam menyelesaikan masalah sosial di Masyarakat.
Tim yang diketuai Oleh Ns. Rizky Pratiwi, S.Kep., M.Kep yang juga merupakan dosen keperawatan anak menjelaskan bahwa fokus utama pengabdian ini adalah memberikan alat bantu komunikasi yang efektif bagi guru dan orang tua. “Selama ini edukasi seksualitas dianggap tabu dan sulit dijelaskan kepada anak spesial. Kami hadir membawa inovasi media ‘Smart Pop-Up Book’ berjudul ‘Kami Inklusif, Kami Berani Berkata Tidak’, dan ‘Tubuhku Berharga, Aku Jaga dan Lindungi” yang di rancang khusus sebagai media visual kinestetik berbentuk 3 dimensi. Selain itu juga alat Circle Safety Board atau papan warna lingkaran untuk membantu memudahkan ABK di SLB-C YPPLB dalam edukasi program khusus bina diri.
Media Interaktif Berbasis Teknologi
Berbeda dengan buku biasa, media Smart Pop-Up Book ini dirancang secara khusus dengan fitur visual 3D yang dapat ditarik (pull-tab) dan dibuka (flap). Inovasi ini memungkinkan konsep abstrak mengenai area privasi tubuh (mulut, dada, kemaluan, dan pantat) menjadi visual yang konkret bagi anak.

Dampak Nyata: Level Keberdayaan Mitra Meningkat Tajam
Keberhasilan program ini dibuktikan melalui data kuantitatif yang menggembirakan.
Berdasarkan hasil pengukuran paska-edukasi, tingkat pengetahuan guru dan orang tua mengenai perlindungan anak meningkat drastis, di mana 89% responden kini berada pada kategori “Baik”.
Sementara itu, pada sisi siswa, hasil observasi menunjukkan capaian rata-rata kognitif di angka 10,75 (dari skor maksimal 15). Siswa mulai mampu mengenali identitas diri dan area rahasia tubuh mereka. Pada aspek psikomotorik, siswa juga mulai mahir mendemonstrasikan gerakan pertahanan diri sederhana seperti isyarat tangan “Stop” serta teriakan “Jangan” melalui metode “Lari, Teriak, Lapor”.
Source link
