News

Guntur Romli Beberkan Alasan Prabowo Harus Waspadai Jokowi yang Suka Main Raja-rajaan



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Polemik pemberian gelar adat kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menuai perhatian. Setelah menuai penolakan dari sejumlah pihak, kali ini kritik datang dari kader PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli.

Guntur mempertanyakan alasan Jokowi masih menerima berbagai bentuk penghormatan dan simbol kebesaran adat meski telah mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden. Menurutnya, fenomena tersebut patut dicermati, termasuk oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Mengapa Jokowi masih main raja-rajaan? Dan mengapa Presiden Prabowo harus waspada?” ujar Guntur, seperti dikutip fajar.co.id, Selasa (4/8/2026).

Dalam pernyataannya, Guntur menyoroti bantahan yang disampaikan Raja Amanuban, Pina Ope-Nope, terkait kabar penobatan Jokowi sebagai Raja Timor.

Menurut Guntur, Raja Amanuban telah membantah secara tegas adanya penobatan tersebut. Bahkan, disebutkan tidak pernah ada pembahasan mengenai pemberian gelar dimaksud.

“Raja Amanuban, Pina Ope-Nope, membantah tegas kabar penobatan Jokowi sebagai Raja Timor,” kata Guntur.

Ia menambahkan, kehadiran para raja adat dalam kegiatan budaya di Kupang bukanlah untuk menggelar prosesi pengukuhan gelar adat, melainkan semata-mata sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang.

Berdasarkan bantahan tersebut, Guntur menilai ada upaya membangun persepsi publik seolah-olah Jokowi memperoleh legitimasi simbolik melalui berbagai gelar adat.

Menurutnya, narasi mengenai penobatan raja maupun pemberian gelar kehormatan itu tidak memiliki dasar adat yang kuat.

“Bantahan ini penting karena membongkar pola lama manipulasi PSI dan termul yang sibuk membungkus kunjungan biasa Jokowi dengan narasi kebesaran simbolik,” ujarnya.

Ia kemudian melanjutkan kritiknya dengan menyebut Jokowi masih menikmati simbol-simbol kekuasaan.

“Fenomena ini bukan sekali dua kali. Jokowi masih doyan main raja-rajaan karena nafsu kekuasaannya tidak pernah benar-benar padam,” katanya.

Guntur juga mengaitkan polemik di NTT dengan prosesi pemberian gelar adat yang sebelumnya diterima Jokowi di Lampung.

Ia menyinggung prosesi yang memperlihatkan Jokowi menginjak kepala kerbau, yang menurutnya tidak sesuai dengan tata cara adat yang sebenarnya.

“Sebelumnya di Lampung dianugerahi gelar oleh orang-orang yang bermasalah dari sisi hukum, sambil dengan sombong menginjak kepala kerbau,” ujarnya.

Menurut Guntur, dalam tradisi adat yang benar, prosesi tersebut hanya dilakukan dengan menyentuhkan kaki ke kepala kerbau, bukan menginjaknya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *