UNM Kembangkan Irigasi Berbasis Energi Surya di Pangkep, Petani Kacang Tanah Kini Lebih Hemat dan Produktif
PORTALUTAMA.NET, PANGKEP – Universitas Negeri Makassar (UNM) terus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui inovasi teknologi. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Desa Binaan Tahun 2026, UNM menghadirkan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk membantu petani kacang tanah di Desa Tondongkura, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), menghadapi persoalan kekeringan.
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan energi surya sebagai sumber tenaga pompa irigasi.
Selama beberapa musim terakhir, petani di Desa Tondongkura menghadapi tantangan serius akibat berkurangnya pasokan air. Kondisi itu membuat lahan pertanian tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, sementara penggunaan pompa berbahan bakar minyak dinilai membebani petani karena tingginya biaya operasional.

Sebagai solusi, Tim Pengabdian UNM mengimplementasikan sistem PLTS untuk menggerakkan pompa air irigasi. Teknologi ini diharapkan mampu menyediakan sumber energi yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.
Program tersebut dipimpin oleh Ir. Muhammad Hasim, M.Pd. bersama tim yang terdiri atas Akmal Hidayat, S.Pd., M.Pd., Hamida Hamris, S.Pd., M.Pd., dan Ummul Masir, S.Pt., M.Si.
Selain memasang sistem PLTS, tim juga memberikan pelatihan kepada para petani mengenai pengoperasian, perawatan, hingga pengelolaan teknologi agar dapat dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdi, Ir. Muhammad Hasim, M.Pd., menjelaskan bahwa pemanfaatan energi surya sangat sesuai dengan kondisi geografis Desa Tondongkura yang memiliki intensitas sinar matahari tinggi sepanjang tahun.
“Kami ingin teknologi ini menjadi solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Harapannya, petani tidak lagi terbebani biaya operasional yang tinggi untuk pengairan sehingga produktivitas pertanian dapat terus meningkat dan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan mereka,” ujar Muhammad Hasim.
Pelaksanaan program mendapat dukungan dari pemerintah desa serta partisipasi aktif masyarakat. Para petani terlibat langsung sejak proses pemasangan hingga pengujian sistem sehingga memperoleh pengalaman praktis dalam mengoperasikan teknologi tersebut.
Pendekatan partisipatif ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian masyarakat dalam mengelola sistem PLTS setelah program pengabdian selesai.
Source link
