News

Pembukaan ARTJOG 2026 Ricuh, Aksi Protes Seniman Dihentikan Paksa Petugas Keamanan



PORTALUTAMA.NET, YOGYAKARTA — Pembukaan pameran seni kontemporer tahunan bergengsi, ARTJOG 2026, yang digelar di Jogja National Museum (JNM) diwarnai kericuhan pada Jumat malam (19/6/2026).

Dalam video yang kini beredar luas, terlihat aksi protes teatrikal tunggal yang dilakukan oleh seorang seniman dihentikan secara paksa dan represif oleh oknum petugas keamanan.

Insiden ini mendadak viral di media sosial setelah potongan video amatir beredar luas. Dalam video tersebut, tampak seorang seniman berbaju hitam dan mengenakan penutup kepala (sebo) melakukan aksi monolog, menebar kembang, hingga menyemprotkan cat ke dinding berlogo ARTJOG.

Namun, situasi dengan cepat memanas ketika sejumlah petugas keamanan mendekat dan melakukan tindakan tegas untuk menyeret seniman tersebut keluar dari area pameran. Saling dorong tidak terhindarkan, bahkan muncul dugaan adanya pemukulan dalam proses pengamanan tersebut.

Soroti Isu Independensi dan Dana Lingkaran Kekuasaan

Berdasarkan informasi yang dihimpun, seniman yang diketahui bernama Ayik tersebut menggelar aksi tunggal sebagai bentuk kritik terhadap independensi ruang seni di Indonesia.

Protes ini dipicu oleh isu sensitif terkait keterlibatan pendanaan ARTJOG 2026 yang diduga mengalir dari yayasan milik putra presiden. Pengunjuk rasa menilai masuknya dana dari lingkaran kekuasaan dapat mencederai netralitas dan kebebasan berekspresi di panggung seni nasional.

“Sama lagu atau film takut, sama seniman pun takut, tapi sama rakyat berani!” bunyi salah satu kalimat gugatan yang viral di media sosial menyusul insiden tersebut.

Menanggapi gelombang protes dan kericuhan yang terjadi di lapangan, pihak panitia ARTJOG langsung bergerak cepat untuk meredam situasi. Melalui pernyataan resminya, panitia menyampaikan permohonan maaf atas tindakan represif dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum keamanan.

Pihak penyelenggara menegaskan bahwa tidak ada intervensi kuratorial sama sekali dalam pemilihan karya tahun ini. Sebagai langkah evaluasi total dan demi menjaga kondusivitas, panitia akhirnya mengambil keputusan tegas untuk menurunkan nama serta logo sponsor yang memicu polemik tersebut dari seluruh atribut pameran.

Pro-Kontra Netizen: Ruang Aman vs Ketertiban Acara

Insiden ini langsung memicu perdebatan panas di platform media sosial seperti X (Twitter) dan Instagram. Mayoritas warganet menyayangkan tindakan represif aparat keamanan dan menilai kebebasan berekspresi di Indonesia kian terancam.

“Katanya pasar seni kontemporer terbesar, tapi dikritik sedikit langsung pakai otot. Ironis banget, esensi seninya sudah hilang digantikan kepentingan oligarki,” tulis akun @art_rebel99.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *