Peneliti BRIN Ungkap Potensi Pengetahuan Lokal untuk Wisata Karst Maros

PORTALUTAMA.NET, MAROS – Kawasan Karst Maros menyimpan kekayaan pengetahuan lokal yang melimpah. Sayangnya, potensi besar ini dinilai belum dioptimalkan dalam pengambilan kebijakan pembangunan pariwisata daerah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Fitrawan Umar, peneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kecamatan Bantimurung, Maros, Sabtu (20/6/2026).
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) bertajuk “Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Pengetahuan Tradisional Ekokultural Masyarakat Karst Maros”. Proyek riset kolaboratif ini didanai oleh Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiaraya (sebelumnya Dana Indonesiana) dan LPDP RI.
Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi tim peneliti (@wisatabudayakarst), kolaborasi besar ini melibatkan lintas institusi. Mulai dari BRIN, Yayasan Antropos, Ikatan Perencana Desa (IPD), Kotata’, hingga mahasiswa Departemen Antropologi Universitas Hasanuddin.
Fondasi Desa Wisata Berkelanjutan
Fitrawan Umar menjelaskan bahwa riset mereka berfokus pada penggalian mendalam terhadap kearifan lokal dan cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan karst.
“Pengetahuan lokal ini kami jadikan sebagai fondasi utama dalam merancang model desa wisata yang mandiri, edukatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengangkatan pengetahuan lokal ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap kebudayaan masyarakat setempat. Dengan begitu, dampak negatif dari pengembangan pariwisata masif dapat diminimalisir sejak dini.
Libatkan Komunitas Pemuda dan Arkeolog
Acara FGD ini berlangsung interaktif dengan menghadirkan berbagai elemen penting masyarakat. Di antaranya Ikatan Pemuda Pajjaiang (IPP), Komunitas Sadar Budaya, Karang Taruna Desa Tukamasea, dan Direktur National Archaeology. Hadir pula M. Fadhly Kurniawan, peneliti yang telah mendedikasikan waktu selama kurang lebih sepuluh tahun untuk mengkaji kawasan karst Maros.
Sepanjang diskusi, para peserta aktif bergantian menyampaikan pandangan, masukan, dan rekomendasi strategis. Beberapa isu krusial yang mengemuka dalam pertemuan tersebut meliputi:
1) Strategi pengembangan potensi dan keunikan lokal.
2) Perlindungan situs-situs arkeologi yang rentan.
3) Pentingnya dokumentasi tertulis atas tradisi lisan masyarakat karst.
4) Penguatan tata kelola pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton.
Melalui sinergi riset dan pelibatan komunitas ini, diharapkan masa depan pariwisata Karst Maros tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga melestarikan peradaban dan menyejahterakan warga lokalnya. (sam/fajar)
Source link
