DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Harga Barang

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mata uang Garuda ditutup melemah hingga menyentuh level Rp17.596 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (15/5/2026).
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi imported inflation atau inflasi impor yang dapat berdampak langsung pada kenaikan harga barang dan menurunnya daya beli masyarakat.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, meminta Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia segera memperkuat langkah mitigasi agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin meluas ke sektor riil.
Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Global
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 67,50 poin atau sekitar 0,39 persen pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Misbakhun menilai pelemahan kurs saat ini dipicu kombinasi berbagai sentimen global, mulai dari perubahan arus modal asing hingga meningkatnya ketidakpastian pasar internasional.
Ia mengingatkan agar gejolak eksternal tersebut tidak sampai memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat.
“Kalau pelemahan rupiah ini tidak dimitigasi dengan cepat, dampaknya bisa langsung terasa pada biaya produksi, harga barang impor, hingga harga kebutuhan masyarakat,” ujar Misbakhun, dikutip fajar.co.id, Selasa (19/5/2026).
Misbakhun juga menyoroti pentingnya langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Menurut dia, intervensi perlu dilakukan secara terukur melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Namun, ia menegaskan bahwa yang harus dijaga bukan hanya level kurs rupiah semata, melainkan juga psikologi pasar dan kepercayaan pelaku usaha.
“Yang dijaga bukan cuma angka kursnya. Yang lebih penting adalah kepercayaan pasar dan kepastian bagi pelaku usaha. Komunikasi kebijakan harus cepat, jelas, dan kredibel,” ungkapnya.
Soroti Pentingnya Devisa Hasil Ekspor
Selain sektor moneter, Misbakhun turut menyinggung langkah fiskal pemerintah, khususnya terkait optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Ia meminta pemerintah memastikan devisa hasil ekspor tetap tersimpan dalam sistem keuangan domestik agar pasokan dolar di pasar dalam negeri tetap terjaga.
Menurutnya, suplai valuta asing yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk menahan tekanan terhadap rupiah di tengah gejolak global.
Misbakhun juga meminta Kementerian Keuangan menyiapkan skema antisipasi melalui APBN guna menjaga stabilitas industri, terutama sektor padat karya yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Source link
