Nadiem Makarim Bantah Tuduhan Kongkalikong Google: ChromeOS Tak Berbayar

PORTALUTAMA.NET – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Nadiem Makarim kembali menjadi sorotan setelah unggahan terbaru di akun media sosial resminya yang dikelola tim penasihat hukum, Senin (18/5/2026).
Dalam unggahan tersebut, pihak Nadiem membantah tuduhan adanya kongkalikong dengan Google dalam proyek pengadaan Chromebook di lingkungan pendidikan.
Melalui pernyataan itu, tim hukum menegaskan bahwa tudingan adanya konflik kepentingan maupun keuntungan pribadi tidak terbukti dalam persidangan.
“Banyak yang menuduh Nadiem Makarim kongkalikong dengan Google dalam pengadaan Chromebook. Padahal di persidangan tidak terbukti ada keuntungan maupun konflik kepentingan,” tulis unggahan tersebut.
Pernyataan itu juga menyoroti kesalahpahaman publik terkait posisi Google dalam proyek pengadaan perangkat pendidikan berbasis Chromebook tersebut.
Menurut tim penasihat hukum, Google bukan pihak yang menjual laptop Chromebook secara langsung kepada pemerintah. Pengadaan perangkat disebut dilakukan melalui vendor lokal, sementara Google hanya menyediakan sistem operasi ChromeOS.
“Yang sering luput: Google bukan penjual laptopnya. Chromebook dibeli dari vendor lokal, sementara Google hanya menyediakan ChromeOS, seperti Microsoft menyediakan Windows,” lanjut isi unggahan.
Dalam penjelasan itu, pihak Nadiem juga menekankan bahwa ChromeOS tidak memerlukan biaya lisensi tambahan. Karena itu, mereka menilai narasi bahwa kebijakan penggunaan Chromebook dibuat untuk “bagi-bagi keuntungan” dianggap tidak logis.
“Bahkan ChromeOS tidak memerlukan biaya lisensi tambahan, sehingga narasi bahwa kebijakan ini dibuat ‘bagi-bagi keuntungan’ dinilai tidak masuk akal,” demikian pernyataan tersebut.
Polemik Pengadaan Chromebook
Isu pengadaan Chromebook sebelumnya ramai diperbincangkan publik setelah muncul kritik terkait efektivitas penggunaan laptop berbasis ChromeOS di sejumlah daerah. Kebijakan digitalisasi pendidikan yang dijalankan saat kepemimpinan Nadiem Makarim memang sempat menuai pro dan kontra.
Sebagian pihak menilai penggunaan Chromebook dianggap belum sepenuhnya cocok untuk wilayah dengan keterbatasan akses internet. Namun pemerintah saat itu berargumen bahwa perangkat tersebut dipilih untuk mendukung ekosistem pembelajaran digital yang lebih efisien dan aman.
Chromebook sendiri merupakan laptop yang menggunakan sistem operasi ChromeOS buatan Google. Berbeda dengan laptop konvensional berbasis Windows, Chromebook dirancang lebih ringan dan terintegrasi dengan layanan berbasis cloud.
Source link
