Chatib Basri Ungkap Strategi Pertumbuhan Ekonomi ala Ricardo Hausmann: Fokus Bangun Kapabilitas, Bukan Sekadar Hilirisasi

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Ekonom senior Indonesia, Muhammad Chatib Basri, membagikan pandangannya terkait strategi pertumbuhan ekonomi negara berkembang usai berdiskusi dengan ekonom dunia, Ricardo Hausmann.
Melalui unggahan di akun X pribadinya pada Sabtu (16/5/2026), Chatib Basri mengungkapkan percakapannya bersama Hausmann yang dikenal luas lewat konsep economic complexity index atau indeks kompleksitas ekonomi.
“Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya,” tulis Chatib Basri dalam unggahannya.
Dalam diskusi tersebut, keduanya membahas strategi pertumbuhan (growth strategy) di negara berkembang atau emerging economies. Menurut Chatib, Hausmann menekankan bahwa perdebatan mengenai sektor mana yang memiliki nilai tambah tinggi bukanlah hal paling utama.
Sebaliknya, yang lebih penting adalah membangun kapabilitas industri dan teknologi secara bertahap.
“Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities,” lanjutnya.
Hausmann, kata Chatib, mencontohkan perjalanan industrialisasi Jepang yang dimulai dari industri tekstil sebelum berkembang menjadi kekuatan otomotif dunia melalui lahirnya perusahaan seperti Toyota.
“Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan Toyota,” ungkap Chatib.
Tak hanya Jepang, negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Swedia juga disebut sebagai contoh keberhasilan pembangunan kapabilitas industri berbasis sumber daya alam.
Menurut Hausmann, industri teknologi tinggi di negara tersebut tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang dari sektor yang terlihat sederhana seperti kehutanan, pulp, dan kertas.
“Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas,” tulisnya lagi.
Dari sektor tersebut, lanjut Chatib, tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, hingga riset yang kemudian melahirkan perusahaan teknologi global seperti Nokia.
“Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia,” katanya.
Chatib menilai inti dari pembangunan ekonomi modern bukan sekadar memilih antara hilirisasi, manufaktur, atau jasa, melainkan kemampuan suatu negara meningkatkan kapabilitas industri agar semakin kompleks dan produktif.
Source link
