News

Media Internasional The Economist Sorot Tajam Kebijakan Prabowo, Peneliti ISEAS: Kritik Juga Datang dari China



Program MBG dan 80 ribu koperasi desa dinilai membebani anggaran. Investor khawatir, rupiah melemah 11%

JAKARTA, PORTALUTAMA.NET — Majalah internasional The Economist menyoroti arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berisiko terhadap stabilitas ekonomi dan demokrasi Indonesia.

Media tersebut menilai kebijakan pemerintah berpotensi membebani keuangan negara di tengah tekanan ekonomi global.

“Prabowo Subianto sedang mengikis keuangan negaranya—dan juga demokrasinya,” tulis The Economist sebagaimana dikutip pada Jumat, 15 Mei 2026.

Program MBG dan Koperasi Desa Jadi Sorotan

The Economist menyoroti program Makan Bergizi Gratis [MBG] dan pembentukan 80 ribu koperasi desa yang disebut dapat menghabiskan sekitar 10% anggaran negara.

Media itu menilai kondisi fiskal semakin berat akibat krisis energi global.

“Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis,” tulis media tersebut.

Artikel itu menyebut pemerintah menghadapi pilihan sulit: memangkas proyek unggulan, mengurangi subsidi energi, hingga melampaui batas defisit anggaran 3% dari PDB. Masing-masing opsi disebut memiliki risiko politik besar.

Investor Khawatir, Rupiah Melemah 11%

Di bidang ekonomi, The Economist mencatat investor mulai khawatir. Modal asing sebesar 6 miliar dolar AS keluar dari Indonesia, sementara rupiah melemah 11% terhadap dolar hingga menyentuh titik terendah sepanjang sejarah.

“Di bawah pemerintahan Prabowo, modal asing sebesar 6 miliar dolar AS telah keluar dan rupiah melemah 11% terhadap dolar,” tulis artikel itu.

Ruang Demokrasi Dinilai Menyempit

Di bidang politik, media tersebut menilai ruang oposisi dan kritik publik semakin menyempit. Oposisi legislatif disebut “hampir dilumpuhkan” serta muncul wacana penghapusan pemilihan langsung kepala daerah.

“Civil society diintimidasi. Hanya sedikit ruang bagi perbedaan pendapat dan pertarungan gagasan,” tulis The Economist.

Meski mengakui Indonesia telah mengalami kemajuan besar sejak reformasi 1998, The Economist memperingatkan kemajuan itu bisa tergerus jika ruang kritik terus dibatasi.

“Perbedaan pendapat yang tidak mendapat saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan,” tulis artikel tersebut.

Respons Peneliti ISEAS: Kritik Tak Hanya dari Barat

Menanggapi artikel itu, peneliti ISEAS–Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, turut bersuara.

Menurutnya, minggu ini The Economist memuat dua artikel tentang Prabowo. Artikel pertama berjudul “Presiden Prabowo Membahayakan Ekonomi dan Demokrasi” dengan subjudul “Prabowo Subianto Terlalu Boros dan Otoriter”.

Artikel kedua berjudul “Indonesia, Negara Mayoritas Muslim, Ada pada Jalur Berisiko” dengan subjudul “Prabowo Subianto Melemahkan Keuangan Negeri Ini — dan Juga Demokrasinya”.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *