Sara Duterte Dimakzulkan, Gibran Dihantam Isu Serupa: Ini Perbedaannya

PORTALUTAMA.NET – Gelombang konflik politik di Filipina terus memanas setelah Wakil Presiden Sara Duterte dimakzulkan oleh DPR Filipina.
Mayoritas anggota parlemen mendukung impeachment terhadap putri mantan Presiden Rodrigo Duterte tersebut.
Namun, proses pemecatan belum sepenuhnya selesai karena keputusan akhir kini berada di tangan Senat Filipina.
Situasi ini menjadi babak terbaru dari pertarungan politik antara keluarga Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr. yang sebelumnya sempat berkoalisi pada Pemilu 2022.
Mayoritas DPR Filipina Setuju Impeachment Sara Duterte
Dalam voting di House of Representatives Filipina, sebanyak 257 anggota parlemen mendukung pemakzulan Sara Duterte.
Sementara itu, 26 anggota menolak dan sembilan lainnya memilih abstain.
Jumlah tersebut melampaui syarat minimal sepertiga suara agar proses impeachment dapat diteruskan ke Senat untuk disidangkan.
Persetujuan DPR itu sekaligus menandai kali kedua Sara Duterte menghadapi proses pemakzulan di parlemen Filipina.
Dilansir dari Al Jazeera, Sara Duterte menghadapi sejumlah tuduhan serius.
DPR Filipina menudingnya melakukan pelanggaran konstitusi, penyalahgunaan dana rahasia pemerintah, hingga pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.
Selain itu, ia juga disebut tidak melaporkan kekayaan secara transparan dan diduga terlibat praktik suap.
Tak hanya itu, nama Sara Duterte turut dikaitkan dengan dugaan ancaman terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, serta mantan Ketua DPR Martin Romualdez.
Transaksi Rp1,7 Triliun Jadi Sorotan
Salah satu tuduhan yang paling menyita perhatian berkaitan dengan transaksi perbankan bernilai lebih dari USD 110 juta atau sekitar Rp1,7 triliun.
Transaksi tersebut disebut telah ditandai lembaga anti pencucian uang Filipina.
Anggota DPR Filipina, Terry Ridon, yang menjadi salah satu pengusul impeachment menilai angka transaksi tersebut sulit dijelaskan dari pendapatan resmi Sara Duterte.
“Pemungutan suara hari ini bukan sekadar agenda politik, tetapi bentuk pertanggungjawaban konstitusional,” kata Ridon.
Ketua Komite Kehakiman DPR Filipina, Gerville Luistro, menegaskan proses impeachment bukan sekadar persoalan hukum.
Baginya, perkara itu berkaitan langsung dengan moralitas politik dan masa depan demokrasi Filipina.
“Kami tidak bisa terus diam. Suara hari ini menentukan republik seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya,” imbuhnya.
Nasib Sara Duterte Ditentukan Senat
Meski DPR telah menyetujui impeachment, Sara Duterte belum otomatis kehilangan jabatannya sebagai wakil presiden.
Berdasarkan konstitusi Filipina, pemecatan baru dapat dilakukan apabila dua pertiga anggota Senat menyatakan dirinya bersalah dalam sidang impeachment.
Namun, situasi politik di Senat dinilai lebih menguntungkan kubu Duterte.
Salah satu senator yang disebut dekat dengan keluarga Duterte, Alan Peter Cayetano, sebelumnya menjadi sorotan karena dianggap bisa memengaruhi jalannya proses politik.
Source link
