News

Dede Budhyarto: Gatot Nurmantyo Lagi Main Victim Card



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto, membalas pernyataan mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, yang mengaku dicopot Presiden ke-7 RI Jokowi karena tidak mengikuti permintaan terkait kenaikan pangkat seorang perwira tinggi TNI.

Dede mengatakan Abe narasi yang disampaikan Gatot Nurmantyo saat ini lebih bernuansa politis dan cenderung memainkan peran sebagai korban.

Sebut Gatot Main Victim Card

Blak-blakan, Dede mempertanyakan alasan Gatot baru membuka cerita tersebut setelah pensiun dan aktif di Partai Ummat.

“Bro, Gatot lagi main victim card ya? Dicopot 2017 karena tolak titipan?,” ujar Dede dikutip fajar.co.id pada Jumat 8 Mei 2026.

Dijelaskan Dede, pencopotan Gatot dari jabatan Panglima TNI kala itu lebih berkaitan dengan persoalan koordinasi dalam pelaksanaan HUT TNI di Cilegon.

“Padahal fakta di lapangan, HUT TNI di Cilegon Jokowi sampe jalan kaki 3 km gegara macet parah, koordinasi Panglima-nya kacau, Polri bahkan nggak dilibatkan,” katanya.

Dede menegaskan bahwa Presiden memiliki hak penuh melakukan mutasi dan pergantian jabatan di tubuh TNI karena merupakan Panglima Tertinggi sesuai konstitusi.

“Presiden itu Panglima Tertinggi TNI sesuai UUD, hak mutasi ada di beliau. Kalau nggak nurut komando, ya wajar diganti,” ucapnya.

Dia juga menyindir Gatot agar tidak membangun citra sebagai sosok anti-titipan.

“Jangan sok jadi pahlawan anti-titipan, padahal dulu juga bagian dari sistem itu,” sindirnya.

Upaya Rusak Legacy Jokowi

Dede menekankan bahwa pernyataan Gatot memiliki pola serupa dengan berbagai narasi politik yang menurutnya kerap diarahkan untuk merusak warisan politik Jokowi.

“Narasi ini sama kek Ahok yang dipelintir, Jokowi menang 2014, Ahok dipenjara 2017 gara-gara Aksi 212 soal Pilkada DKI. Bukan dikorbankan buat 2019,” timpalnya.

Dia menegaskan bahwa berbagai tudingan tersebut tidak akan menghapus capaian pembangunan era Jokowi.

“Semua cuma buat ngerusak legacy Jokowi yg infrastrukturnya masih berdiri kokoh sampai sekarang,” lanjutnya.

Dede juga menyinggung waktu munculnya pengakuan Gatot yang baru disampaikan setelah pensiun dan bergabung dengan Partai Ummat.

“Sudah pensiun, masuk Partai Ummat, tiba-tiba semua pengakuan keluar. Klasik mantan pejabat oposisi, dulu diam manis, sekarang jual cerita biar relevan,” katanya.

Ia pun meminta agar polemik tersebut tidak dibelokkan menjadi drama politik.

“Sakit hati boleh, tapi jgn bikin sejarah jadi sinetron murahan. Rakyat udah bisa bedain mana fakta, mana ngomong kosong buat gaung politik,” tandasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *