Sejarah Kedatuan Luwu, Kerajaan Tertua di Sulsel? Lebih Dulu dari Gowa dan Bone

PORTALUTAMA.NET — Kerajaan Luwu kerap disebut sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Namun, benarkah demikian? Narasi ini banyak merujuk pada Sure La Galigo, karya sastra epik yang diakui sebagai salah satu yang terpanjang di dunia dan ditulis menggunakan aksara Lontara.
Secara historis, Kerajaan Luwu diperkirakan telah muncul sejak abad ke-10. Kerajaan ini diyakini telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Gowa, Bone, dan kerajaan besar lainnya di Sulawesi Selatan.
Sejak berdirinya, pusat pemerintahan (ware’) Kerajaan Luwu tercatat mengalami enam kali perpindahan.
Perpindahan pertama berada di Ussu, yang kini merupakan desa di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur. Pada masa ini, kekuasaan diyakini berada di tangan keturunan dewa yang menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan.
Perpindahan kedua terjadi sekitar awal abad ke-13, pada periode lontarak, di bawah pemerintahan Simpurusiang. Ia merupakan Raja ke-3 Kerajaan Luwu setelah Batara Guru dan Batara Lattu. Namanya kini diabadikan sebagai Perusda Simpurusiang oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.
Selanjutnya, pada awal abad ke-14, pusat kerajaan berpindah ke Mancapai di selatan Danau Towuti. Perpindahan ini terjadi pada masa pemerintahan Anakaji, Datu Luwu ke-4, yang merupakan putra Patianjala dan Simpurusiang.
Perpindahan keempat terjadi sekitar abad ke-16, ketika Dewa Raja memindahkan pusat kerajaan ke Kamanre di tepi Sungai Noling, yang kini masuk wilayah Kabupaten Luwu.
Masih pada abad yang sama, perpindahan kelima dilakukan oleh We Tenrirawe ke wilayah Pao, Pattimang-Malangke, yang saat ini berada di Kabupaten Luwu Utara. Di kawasan ini pula terdapat kompleks Makam Datuk Pattimang.
Source link
