News

Makna Slogan “No King” Pada Protes Rakyat Amerika Serikat



Oleh: Ridwan al-Makassary*

Pada 29 Maret 2026, sekitar delapan juta manusia menyemuti jalanan di seantero Amerika Serikat (AS). Sejak dari Minnesota hingga Manhattan, dari Sacramento hingga Washington D.C., mereka lantang menyerukan No Kings! No War! (Tidak ada raja! Tidak (hentikan) Perang!). Ini bukan kali pertama.

Sejak 14 Juni 2025, gelombang protes politik ini telah bergulir dengan deras. Pada Oktober tahun lalu, tujuh juta orang turun ke jalan. Dan, kini mereka kembali ke jalan dengan jumlah yang lebih massif, yaitu lebih dari 3.300 demonstrasi di 50 negara bagian. Apa makna slogan No King yang menggerakkan, menggetarkan dan memobilisasi jutaan orang AS tersebut? Tulisan singkat ini akan menjelaskan makna No King dalam konteks tersebut.

Fenomena No King, pada dasarnya, bukan saja ekspresi ketidakpuasan politik terhadap kepemimpinan Donald Trump, melainkan juga ledakan kesadaran sipil sebagai sebuah refleksi kolektif bahwa sesuatu dalam tubuh demokrasi AS sedang bergerak menjauh dari ruhnya sendiri.

Murungnya negara AS yang dikenal sebagai “kampiun demokrasi” justru menghardik demokrasi dengan keras.
Perang dengan Iran menjadi katalis utama dari kegelisahan ini.

Para demonstran menilai bahwa perang tersebut bukan lagi sekadar isu geopolitik, melainkan juga simbol kekuasaan yang berulang, di mana keputusan besar tentang perang dan damai tanpa keterlibatan pihak-pihak berwenang, hanya menjadikan rakyat global menanggung konsekuensinya, baik secara moral, ekonomi, maupun kemanusiaan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *