Feri Amsari: Kemampuan Tertinggi di Indonesia Bukan Kepintaran, tapi Menjilat

PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menyebut kemampuan mejilat bagi orang Indonesia menentukan karirnya.
Hal tersebut diungkapkan dalam program Terus Terang. Ditayangkan melalui YouTube Mahfud MD Official.
Feri mulanya menyebut anak muda di Indonesia saat ini tak membutuhkan lagi pendidikan tinggi.
“Anak-anak muda bagi saya tidak bahkan tidak butuh kuliah sekarang,” kata Feri dikutip pada Jumat (23/10/2026).
Feriri lalu mengatakan Indonesia hari ini seperti tak butuh orang pintar.
“Ngapain kuliah? Ngapain pintar-pintar?Toh tidak diperlukan juga ijazah,” ucapnya.
Menurutnya, yang terpenting di Indonesia ialah menjilat. Bukan menjadi pintar.
“Kemampuan tertinggi bukan kepintaran di republik yang porak-poranda. Kemampuan tertinggi adalah kemampuan menjilat kekuasaan,” ungkapnya.
Secara satire, Feri menyebut menjilat menentukan karir seseorang.
Jika mampu menjilat, maka karir bisa mudah menduduki jabatan strategis.
“Semakin mampu Anda menjilat, jadilah staf utusan khusus presiden, jadilah Wantimpres, jadilah yang lain komisaris terutama ya. Kalau mau juga jadi komisaris, kabinet bayangan mau buat komisaris bayangan ya,” paparnya.
Karenanya, Feri mengatakan hal tersebut tak dibiarkan. Mesti dituntaska segera mungkin.
“Ini problematika yang harus dituntaskan serius sesegera mungkin. Dan saya hanya bisa percaya anak muda,” ucapnya.
Feri mengatakan sejarah Indonesia sejarah perjuangan anak muda. Begitu pula negara-negara di Indonesia.
“Karena sejarah republik ini termasuk tulisan George Cuts ya, yang menceritakan sejarah perjuangan orang-orang di Asia bertumpu ke gerakan anak muda,” ujar Feri.
Kini, Feri melihat Feri anak muda memaksa orang tua untuk turun ke jalan.
“Sekarang bahkan anak-anak muda harus memaksa orang-orang tua senior termasuk para dosennya, termasuk mantan menteri, untuk segera turun ke jalan. Tidak dalam satu hari tapi sampai selesai,” ungkapnya.
“Kapan lagi kita melihat Prof. Susi, Prof. Mahfud turun ke jalan,” lanjut Feri.
Feri sendiri mengaku diolok-olok karena dosen tapi turun ke jalan.
“Hari ini di kampus saya tuh termasuk diolok-olok dengan Charles Simabura. Prof. Dosen kok turun ke jalan,” ujarnya.
Baginya, itu adalah pernyataan orang udik.
“Lah cara pernyataan bahwa dosen kok turun ke jalan itu pernyataan udik kaum intelektualitas,” imbuhnya.
Menurutnya, jika rakyat sengsara, sudah sharusnya orang teridik turun ke jalan.
“Kalau kemudian rakyatnya sengsara, orang terdidiknya harus turun,” pungkasnya.
(Arya/Fajar)
Source link
