Jokowi Ungkap Operasi Politik, Dedek Prayudi: Telunjuk Jokowi Masih Sakti, Elit Lama pun Tak Nyaman

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Ketua DPP PSI, Dedek Prayudi, memberikan penjelasan tentang pernyataan mantan Presiden Jokowi yang menyebut ada operasi politik dan penumpang gelap terkait isu ijazah.
“Teman-teman, minggu lalu di kediamannya di Solo, Pak Jokowi di depan wartawan secara gamblang mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan isu ijazah ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap. Tentu teman-teman penasaran. Apa maksudnya? Siapa yang dimaksud?” kata Dedek Prayudi.
Dia lantas menjelaskan bahwa Jokowi sejak akhir tahun 2024 selalu diserang dengan isu ijazah yang dilakukan oleh orang atau tokoh yang sama. Dia menyebut, sejak Roy Suryo dkk. memulai tuduhan ijazah palsu Jokowi, isu itu mulai ramai diperbincangkan publik, baik di podcast, TV nasional, maupun media sosial.
“Karena konsisten ya, segala macam jenis tuduhan lain juga kemudian otomatis mengikuti. Jokowi pembohong katanya, Jokowi pengecut, dan lain sebagainya. Talk show demi talk show semakin menzalimi Pak Jokowi,” katanya.
Singkat cerita, Jokowi melaporkan dugaan fitnah ini ke polisi dan kini persidangan resmi masuk tahap pembuktian dan vonis hakim semakin di depan mata.
Di sisi lain, tuduhan yang sama jahatnya dan sama membodoh-bodohinya kini menyerang Gibran. Tuduhan tersebut mengatakan Gibran tidak memenuhi syarat untuk menjadi cawapres pada Pilpres 2024 lalu dan mendorong pendiskualifikasian yang kemudian tidak diterima MK, lalu kini didorong untuk pemakzulan di DPR RI.
“Kalau kita jawab dengan pijakan peraturan perundang-undangan bahwa Gibran memenuhi syarat, mereka akan kabur ke perdebatan proses. Kalau perdebatan proses kita jawab dengan substansi jenjang pendidikan yang dilalui Gibran, mereka akan kembali ke peraturan perundang-undangan. Begitu terus,” kata Dedek Prayudi.
Kembali kepada operasi politik, dia menjelaskan bahwa terdapat benang merah bahwa yang menyerang masih kelompok yang sama, objek isu juga sama, dan yang diserang masih pada poros politik yang sama.
“Padahal pejabat kita yang mengambil jalur pathway itu bukan cuma Gibran. Ada banyak kok. Satu nama yang bisa saya sebutkan adalah Mas Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur,” sebutnya.
Dalam proses pencalonan seorang wakil gubernur, juga harus menyertakan syarat yang sama. Namun dia heran kenapa hanya Gibran yang diributkan kalau ini memang bukan cuma soal kebencian politik yang dieksploitasi melalui operasi politik. “Operasi politik ini kan sudah berlangsung kurang lebih 2 tahun,” katanya.
Lantas siapa yang menunggangi operasi politik tersebut?
Source link
