RKAB Tekan Kinerja Operasional dan Keuangan United Tractors, Bagaimana Prospek ke Depan?
Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah menjadi tantangan utama yang menekan kinerja operasional dan keuangan PT United Tractors Tbk (UNTR) sepanjang delapan bulan pertama 2026. Tekanan ini berdampak langsung pada lini bisnis alat berat, kontraktor pertambangan, hingga penjualan batu bara perseroan.
Direktur Keuangan PT United Tractors Tbk, Philia Hafitz Surya, mengungkapkan bahwa ketidakpastian persetujuan RKAB secara tidak langsung membuat para pelanggan di sektor pertambangan batu bara menahan pembelian alat berat baru.
“Di tahun ini memang karena dampak dari RKAB, pelanggan-pelanggan kami di big machine sales, terutama di coal mining, mengerem dulu pembelian alat berat. Termasuk juga PAMA (PT Pamapersada Nusantara). Sebagai langkah efisiensi capex untuk menjaga balance sheet capacity, PAMA terpaksa juga harus mengerem pembelian Komatsu,” ujar Philia dalam acara Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).
PAMA adalah anak usaha United Tractors di bidang kontraktor pertambangan. Sementara, Komatsu adalah merek alat berat yang diproduksi oleh perusahaan asal Jepang dan dipasarkan di Indonesia oleh United Tractors.
Kinerja Operasional Tertekan
Akibat penundaan investasi oleh para pelaku industri tambang, penjualan alat berat Komatsu hingga Agustus 2026 tergerus 21% menjadi 2.689 unit. Penurunan paling tajam terjadi pada kategori alat berat berukuran besar (big machine) yang anjlok 49% menjadi 436 unit. Padahal, penjualan big machine memiliki nilai kontribusi (ticket value) hingga 10–15 kali lipat dibandingkan unit berukuran kecil.
Tekanan serupa menjalar ke anak usaha kontraktor pertambangan, PAMA Group. Sepanjang delapan bulan pertama 2026, volume pemindahan tanah (overburden removal) PAMA mengalami penurunan 8% menjadi 670 juta bcm, sementara produksi batu bara (coal production) terkoreksi 3% menjadi 93 juta ton.
Di sektor pertambangan batu bara di bawah Turangga Resources, volume penjualan batu bara juga tergerus 22% akibat pembatasan kuota RKAB. Philia menjelaskan, UNTR sebenarnya memiliki kapasitas produksi hingga 15 juta ton. Namun, hingga pertengahan Juni 2026, kuota RKAB yang disetujui pemerintah baru mencapai 7,4 juta ton.
“Tapi kabar baiknya, pada Agustus 2026 kemarin kami sudah mendapatkan kenaikan kuota RKAB menjadi 12,4 juta ton. Hanya saja tantangan berikutnya adalah fenomena El Nino dan musim kemarau di Kalimantan Tengah yang memengaruhi pengiriman, sehingga penjualan akan dimaksimalkan pada kuartal IV,” jelasnya.
Selain isu RKAB, kinerja operasional perseroan juga sempat terbebani oleh penghentian sementara operasional tambang emas Agincourt (Martabe) pada kuartal I-2026. Hal ini menyebabkan volume penjualan setara emas turun 74% menjadi 42.000 ons. Kendati demikian, fasilitas tambang Agincourt telah beroperasi kembali secara normal sejak kuartal II-2026.
Kombinasi penurunan volume operasional tersebut berdampak langsung pada pencapaian finansial konsolidasi UNTR per 30 Juni 2026. Perseroan membukukan penurunan pendapatan bersih sebesar 15% menjadi Rp58 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Philia menjelaskan bahwa koreksi pendapatan bersih ini terutama dipicu oleh penurunan penjualan unit alat berat Komatsu, penghentian sementara operasional tambang emas Agincourt pada kuartal I-2026, serta penurunan volume pertambangan batu bara. Meski demikian, pendapatan PAMA Group masih mencatatkan kenaikan berkat dampak positif penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
Prospek ke Depan
Meskipun kuota RKAB nasional menunjukkan tren persetujuan yang positif hingga mencapai 750–780 juta ton, pemulihan pada segmen penjualan alat berat diproyeksikan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Hal ini disebabkan oleh banyaknya unit alat berat milik konsumen kontraktor pertambangan yang sebelumnya sempat tidak beroperasi (idle) hingga sekitar 30%.
“Kalau ditanya untuk second half tahun ini sampai 2026, kelihatannya (kenaikan RKAB) masih belum berimbas banyak. Karena mereka mulai mengaktifkan unit-unit yang masih idle itu untuk dioperasikan. Mereka memanfaatkan existing unit-nya dulu, baru melakukan pembelian,” ujar Philia.
Manajemen UNTR menetapkan target penjualan alat berat Komatsu tetap berada di kisaran 4.000 unit hingga akhir tahun 2026, dengan porsi big machine sekitar 600 unit. Pemulihan penjualan alat berat diperkirakan baru akan bergerak secara bertahap mulai tahun 2027.
“Pemulihannya ini kita lihat mungkin gradually increase di 2027 seiring evaluasi RKAB tiga tahunan, dan replacement unit kemungkinan bisa di 2028. Kalau RKAB naik terus, itu benar-benar keberuntungan buat United Tractors,” pungkas Philia.
