Beberkan Peluang Wisata Bahari, Menpar Tawarkan Infrastruktur Marina ke Investor di Monako
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana membeberkan potensi sekaligus peluang investasi industri marina dan wisata bahari di Monako.
“Indonesia memiliki garis pantai hampir 100.000 kilometer, perairan tropis, serta 700 lokasi diving yang menjadi modal kuat untuk pengembangan yachting, sailing, dan island-hopping sepanjang tahun,” kata Menteri Pariwisata kepada pelaku industri dan investor global di Monako.
Menurut Menpar, Indonesia memiliki banyak kawasan yang menawarkan pengalaman berlayar dengan karakter berbeda. Di bagian barat terdapat Kepulauan Riau, Belitung, Ujung Kulon, dan Kepulauan Seribu. Potensi tersebut berlanjut ke Bali, Lombok-Gili Tramena, hingga Labuan Bajo.
Indonesia di kawasan timur memiliki kekayaan biodiversitas laut Indonesia, apalagi berada di episentrum Coral Triangle. Potensi tersebut antara lain tersebar di Wakatobi, Ambon dan Banda, Morotai dan wilayah Maluku lainnya, hingga Raja Ampat.
Menpar menjelaskan pengembangan wisata bahari diarahkan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi utama wisata bahari, khususnya wisata yacht, yang didukung fasilitas berkelas dunia dan ekosistem pariwisata yang semakin kompetitif.
Pasar yacht di Indonesia diperkirakan terus berkembang, dari US$261,9 juta pada 2025 menjadi US$449,1 juta pada 2033. Pertumbuhan tersebut setara dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sekitar 7%.
“Pasarnya pun terus berkembang. Indonesia telah mencatat 127 kedatangan superyacht pada periode 2025–2026, tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Australia,” kata Menteri Widi.
Kemenpar menyebut, saat ini terdapat 29 pelabuhan masuk dan keluar yacht yang telah ditetapkan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Sebanyak 19 di antaranya telah memiliki skema masuk melalui jalur kepabeanan (duty-free).
Namun, kapasitas infrastruktur marina Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan potensi pasar yang tersedia. Indonesia saat ini memiliki 10 marina dengan total 336 tempat berlabuh atau berths.
Sebagai perbandingan, Singapura yang memiliki wilayah jauh lebih kecil mempunyai lebih dari 1.200 berths. Sementara Malaysia dan Thailand masing-masing memiliki lebih dari 1.400 berths.
Kesenjangan antara besarnya potensi wisata bahari dan ketersediaan infrastruktur tersebut membuka ruang bagi investasi baru, terutama untuk pembangunan marina, penambahan kapasitas tempat berlabuh, serta pengembangan layanan pendukung industri yacht.
Peluang itu semakin besar karena fasilitas marina dan pelabuhan yacht saat ini masih banyak terkonsentrasi di wilayah barat dan tengah Indonesia. Sementara sejumlah destinasi diving dan snorkeling unggulan berada di kawasan timur Indonesia.
