Belajar dari PIK, Mahasiswa ITB Dapat Bocoran Strategi Bangun Kota Cerdas Berkelanjutan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengembangan kawasan wisata dan perkotaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain menyediakan infrastruktur, pengembang perlu mempertimbangkan teknologi, lingkungan, serta keterlibatan masyarakat dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Pendekatan community-based tourism menjadi salah satu konsep yang dibagikan Estate Management Director Agung Sedayu Group Restu Mahesa dalam SBM ITB Short Program for International 2026.
Dalam sesi secara daring tersebut, Restu memaparkan pengalaman penerapan Sustainable Smart City dalam pengembangan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK).
“Kami ingin menyampaikan selamat atas berlangsungnya SBM ITB Short Program for International 2026 dan Agung Sedayu Group bangga bisa sharing pengalaman bagaimana Sustainable Smart City dikembangkan berdasarkan community-based tourism,” ujar Restu.
Community-based tourism menempatkan masyarakat dan komunitas sebagai bagian dari ekosistem pengembangan destinasi. Pendekatan tersebut membuat pembangunan kawasan tidak semata diarahkan pada penyediaan fasilitas maupun pertumbuhan aktivitas ekonomi.
Dalam konteks Sustainable Smart City, pengelolaan kawasan juga perlu mengintegrasikan pemanfaatan teknologi dengan aspek sosial dan lingkungan.
Restu menilai, perkembangan sebuah kota yang modern tidak seharusnya menghilangkan perhatian terhadap kedua aspek tersebut.
Karena itu, penerapan konsep keberlanjutan membutuhkan kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Restu menyebut unsur bisnis, pendidikan, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta sebagai bagian yang perlu bekerja bersama dalam konsep pentahelix.
Kolaborasi dengan SBM ITB menjadi salah satu ruang bagi sektor industri untuk membawa pengalaman praktis pengembangan kawasan ke lingkungan pendidikan.
Melalui sesi tersebut, peserta dapat melihat bagaimana konsep yang dipelajari secara akademik diterapkan dalam pengelolaan kawasan secara langsung.
Di sisi lain, hubungan antara perguruan tinggi dan industri juga membuka peluang terjadinya pertukaran gagasan. Kajian akademik dapat memberikan perspektif baru terhadap praktik yang telah berjalan di lapangan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat mendorong inovasi dalam pengembangan kawasan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus responsif terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, konsep smart city tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi diarahkan untuk menciptakan kawasan yang mampu menjaga keseimbangan antara modernisasi, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. (Pram/fajar)
Source link
