Feri Amsari: Lihat Sekarang Masyarakat Mengolok-olok Presiden, Logikanya Nggak Nyambung, Matematikanya Tidak Selesai

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Menteri Sekretaris Negara Kabinet Bayangan, Feri Amsari, menyebut bahwa cara Presiden Prabowo Subianto menjalankan roda pemerintahan penuh dengan masalah.
Dikatakan Feri, pembentukan Kabinet Bayangan bukan dimaksudkan untuk menggantikan pemerintahan yang sah.
Menurutnya, keberadaan kabinet tersebut justru ingin menunjukkan bahwa negara dapat dikelola dengan struktur yang lebih sederhana sehingga anggaran bisa lebih banyak diarahkan untuk kepentingan rakyat.
Feri Bandingkan Biaya Rapat Kabinet Bayangan
Feri mengungkapkan, rapat perdana Kabinet Bayangan hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp2 juta. Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan makan dan sewa gedung.
“Beban uang negara tidak diperuntukkan untuk gaji menteri tapi uangnya bisa dipakai untuk rakyat,” ujar Feri dikutip fajar.co.id, Minggu (9/8/2026).
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan pelaksanaan rapat kabinet pemerintah yang melibatkan banyak pejabat.
“Coba bayangkan, kami rapat perdana cuma mengeluarkan uang 2 juta untuk makan dan sewa gedung,” tukasnya.
Lanjut Feri, pemerintah telah memiliki fasilitas gedung sehingga pelaksanaan rapat kabinet semestinya dapat dilakukan secara lebih efisien.
“Negara sudah punya gedung, ini rapat 110-an lebih kabinet paripurna, tahu berapa macet jalan gara-gara wing-wing dan tetot-tetot ke pejabat itu?,” Feri menuturkan.
“Berapa biaya makan sarapan mereka dan makan malam mereka dalam rapat kabinet itu? Bagaimana repotnya para staffing di istana dalam melayankan?,” tambahnya.
Prabowo Terlalu Banyak Pidato
Feri juga mengkritik pola rapat kabinet yang menurutnya lebih banyak diisi dengan pidato Presiden Prabowo.
“Paling nggak rapatnya banyak, tetapi hanya mendengarkan pidato presiden,” sesalnya.
Ia menekankan bahwa rapat kabinet seharusnya menjadi ruang bagi para menteri untuk menyampaikan persoalan sekaligus menawarkan solusi, bukan hanya mendengarkan arahan panjang.
“Orang kalau ngurus negara itu, begini, kita ada masalah ini. Bagaimana pendapat menteri? Apa solusi Anda? Ini pidato kayak ceramah,” tegasnya.
Kata Feri, durasi pidato Presiden yang panjang berpotensi membuat peserta maupun masyarakat merasa jenuh.
“Ceramah saja tidak sepanjang itu. Tiga jam, ada lima jam, dan segala macam. Bahwa memang secara ketatanegaraan, presiden itu adalah the power to persuade. Mengajak orang banyak, meyakinkan orang banyak,” terangnya.
“Tapi kalau persuasinya tiap tiga jam sekali, itu kepanjangan. Orang jadi jenuh dan bosan,” sambung dia.
Masyarakat Mulai Mengolok-olok Presiden
Source link
