News

Ngaku Dapat Rp100 Ribu Saat Demo Dukung MBG, Kepolosan Emak-emak Jadi Bumerang bagi Prabowo



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Aksi dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digelar sekelompok emak-emak di kawasan Monas, Jakarta Pusat, justru memunculkan spekulasi baru.

Alih-alih memperkuat citra program andalan Presiden Prabowo Subianto, pengakuan sejumlah peserta mengenai uang saku dan fasilitas yang diterima selama aksi menjadi bumerang di ruang publik.

Di tengah gelombang kritik mahasiswa terhadap pelaksanaan MBG di berbagai daerah, kemunculan massa pendukung dengan atribut seragam dan pengakuan mendapat kompensasi memicu dugaan bahwa aksi tersebut tidak sepenuhnya lahir dari inisiatif akar rumput.

Simbol Dukungan yang Mengundang Pertanyaan

Aksi yang berlangsung di Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (22/6/2026), diwarnai berbagai atribut pendukung.

Para peserta mengenakan pakaian putih dan kerudung merah, membawa poster, bunga mawar, hingga perlengkapan dapur seperti panci dan saringan mi.

Berdasarkan video yang beredar, sejumlah peserta juga membawa tampah bercat merah putih menyerupai bendera Indonesia. Salah satu di antaranya bertuliskan, “MBG untuk rakyat, bukan konglomerat.”

Di tengah orasi, bunga mawar diangkat tinggi-tinggi sambil peserta mengepalkan tangan mengikuti seruan dari mobil komando.

Pengakuan Peserta Sontak Viral

Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada jalannya aksi. Pengakuan peserta mengenai fasilitas yang diterima selama demonstrasi justru menjadi bahan perbincangan.

Selain memperoleh konsumsi berupa roti, susu, dan buah-buahan, peserta juga disebut menerima pembagian wajan baru secara cuma-cuma.

Yang paling menyita perhatian adalah pengakuan salah seorang peserta yang menyebut dirinya memperoleh uang saku.

“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus lah,” ungkap Desy, dikutip dalam video yang beredar.

Pernyataan tersebut dengan cepat memicu spekulasi di media sosial.

Tidak sedikit warganet mempertanyakan spontanitas aksi yang diklaim sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap program pemerintah.

Kontraproduktif bagi Pemerintah

Kepolosan para peserta dalam mengungkap adanya uang saku dan berbagai fasilitas yang diterima justru dianggap memperkuat kecurigaan publik bahwa aksi tersebut merupakan mobilisasi massa yang terorganisasi.

Di saat mahasiswa di sejumlah daerah menggelar demonstrasi yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah, kemunculan aksi tandingan dengan peserta yang mengaku menerima kompensasi dinilai berpotensi menciptakan persepsi negatif.

Alih-alih menampilkan dukungan organik dari masyarakat, pengakuan tersebut justru memunculkan pertanyaan mengenai siapa penggagas aksi dan bagaimana proses mobilisasi peserta dilakukan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *