News

Usai Ramai Film Pesta Babi, Dosen UNS Bongkar Dugaan Persoalan dari Hutan Papua hingga Ekonomi



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Film dokumenter investigasi berjudul ‘Pesta Babi’ belakangan menjadi perbincangan luas di ruang publik. Pemutaran film tersebut di sejumlah daerah bahkan disebut menarik perhatian masyarakat hingga memunculkan respons dari aparat.

Fenomena itu turut mendapat perhatian dari Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Nurmadi H. Sumarta.

Nurmadi mengatakan bahwa film tersebut tidak sekadar mengangkat tradisi atau budaya lokal, melainkan menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilainya terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam dan tata kelola pemerintahan.

Ia juga menyinggung munculnya berbagai respons terhadap film tersebut, termasuk komentar yang mempertanyakan pihak pendana produksi film. “Adakah yang tersinggung? Sampai seorang KASAD dengan pertanyaan aneh yang biayai siapa? Seperti ucapan viral Yusuf Mansyur, duitnya dari mana? Terus kalo ada maumu apa?,” ujar Nurmadi kepada fajar.co.id, Senin 8 Juni 2026.

Dijelaskan Nurmadi, banyak orang awalnya mengira ‘Pesta Babi’ hanya berkisah tentang tradisi masyarakat di suatu daerah. Namun setelah menontonnya, ia menilai film tersebut justru menyoroti persoalan eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan di Papua.

“Banyak yang mengira film biasa, pesta tradisi suatu daerah. Ternyata film tersebut menceritakan rakusnya manusia, dengan bekingan penguasa merusak ribuan hektar ekosistem hutan di papua,” ucapnya.

Ia menggambarkan bagaimana penggunaan alat berat dalam skala besar disebut berdampak pada kawasan hutan. “Dengan ribuan buldoser dan alat berat diturunkan membabat hutan dengan berbagai kepentingan. Kita sudah menyaksikan kerusakan dan bencana alam, banjir dan longsor di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua,” tukasnya.

“Masihkah belum cukup? Akankah kita biarkan dan tunggu kerusakan datang?” sambung Nurmadi.

Kaitkan dengan Program MBG

Dalam pandangannya, istilah ‘pesta babi’ yang diangkat dalam film tidak hanya dimaknai secara harfiah atau berkaitan dengan persoalan lingkungan.

Ia kemudian mengaitkannya dengan sejumlah program pemerintah yang menurutnya perlu mendapat pengawasan lebih ketat. “Pesta babi ternyata bukan hanya di hutan. Ada di mana mana, bahkan di program prioritas presiden dengan nama MBG,” imbuhnya.

Nurmadi lalu mengutip istilah yang disebut berasal dari seseorang bernama Tiyo. “Tiyo menyebutnya Maling Berkedok Gizi. Ribuan SPPG dibangun megah dengan melibatkan banyak yayasan yang berafiliasi TNI, Polri, Kejaksaan, Parpol maupun politisi,” tegasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *