Apa yang Kita Buang ke Laut, Kembali ke Piring Kita: Alarm One Health dari Pakar Ilmu Kesehatan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Awal Juni selalu diwarnai oleh tiga momentum global penting: Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), Hari Keamanan Pangan Sedunia (7 Juni), dan Hari Laut Sedunia (8 Juni). Sayangnya, ketiga momen ini kerap diperingati secara terpisah sebagai seremoni belaka. Padahal, ketiganya membawa satu pesan krusial: masa depan kesehatan manusia sangat bergantung pada lingkungan yang sehat, laut yang terlindungi, dan pangan yang aman.
Dosen Epidemiologi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Minsarnawati, SKM, M.Kes, menegaskan bahwa ada benang merah epidemiologis yang nyata antara kerusakan lingkungan, pencemaran laut, dan ancaman penyakit pada manusia.
”Dari perspektif epidemiologi, rantai krisis ini terbaca sangat jelas. Pencemaran lingkungan bertindak sebagai sumber paparan, laut menjadi media akumulasi, biota laut menjadi reservoir, produk pangan menjadi jalur transmisi, dan manusia adalah populasi berisiko,” ujar Dr. Minsarnawati kepada fajar.co.id, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, dalam kondisi konsumsi berulang—terutama pada masyarakat pesisir atau kelompok dengan konsumsi seafood tinggi—paparan ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan jangka panjang. “Kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia menghadapi risiko yang jauh lebih besar,” tambahnya.
Kontradiksi Pangan Laut dan Ancaman ‘Senyap’
Berdasarkan data FAO dalam laporan The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA), produksi perikanan global telah melampaui 220 juta ton dengan konsumsi rata-rata mencapai 20 kg per kapita per tahun. Namun, di tengah ketergantungan dunia yang tinggi pada pangan laut, risiko keamanannya justru semakin kompleks.
Plastik yang dibuang sembarangan pecah menjadi mikroplastik dan kini dikategorikan FAO sebagai emerging food safety concern. Sementara itu, bahaya logam berat seperti arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium terbukti memicu penyakit kronis serta gangguan perkembangan akibat proses bioakumulasi di rantai makanan.
Dr. Minsarnawati mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh oleh tampilan fisik komoditas laut di pasar.
“Masalahnya, sebagian besar risiko ini tidak kasatmata. Ikan bisa tampak segar, udang terlihat bersih, dan kerang tampak layak konsumsi, tetapi cemaran kimia maupun mikrobiologi tidak selalu memiliki indikator visual. Kesegaran bukan lagi satu-satunya ukuran keamanan pangan,” tegas pakar epidemiologi UIN Jakarta ini.
Perlunya Marine Food Safety
Surveillance dan Integrasi Data
Selama ini, pengawasan keamanan pangan dinilai masih terlalu fokus di hilir, yaitu ketika produk sudah berada di pasar. Menurut Dr. Minsarnawati, strategi ini sudah tidak cukup untuk menghadapi kompleksitas ancaman saat ini. Keamanan pangan laut harus diintervensi sejak dari sumbernya: kualitas perairan, wilayah tangkap, area budidaya, hingga sistem distribusi.
Source link
